Sore kemarin, setelah seorang langganan pulang, saya membuka laci kasir dan menghitung. Ada "kebocoran" dua ribu rupiah. Mungkin saya salah kasih kembalian, atau mungkin saya lupa mencatat dua kantong kresek.
Sekejap, saya kesal. Saya bahkan sempat menggerutu dalam hati.
Lalu saya tertawa sendiri. Dua ribu rupiah saya sesali, padahal kemarin saya rela menghabiskan lima belas ribu untuk secangkir kopi tanpa berpikir dua kali. Manusia memang aneh, ya.
Di momen saya menertawakan diri sendiri itulah, tiba-tiba teringat suara almarhum kakek saya. Dulu, tiap kali melihat saya kecil ngambek karena mainan direbut teman, beliau cuma tersenyum dan gumam pelan: "Wis, ora popo. Tuna satak, bathi sanak."
Dulu saya tidak paham. Sekarang, saya coba memahami.
Ternyata Artinya Sederhana, Tapi Dalam
Jujur saja, saya baru benar-benar mencari tahu arti petuah ini saat sudah dewasa. Setelah saya buka-buka kamus Jawa, ternyata:
- Tuna = rugi, kehilangan
- Satak = dua ratus (jumlah yang kecil)
- Bathi = untung
- Sanak = saudara, kerabat
Jadi kira-kira artinya: "Rugi sedikit tidak apa-apa, yang penting dapat saudara."
Saya jadi teringat cara orang-orang tua di pasar dulu berdagang. Penjual sayur yang selalu menyelipkan satu cabai ekstra tanpa diminta. Tetangga yang kalau beli gula tidak pernah mau dikembalikan uang recehnya. Mereka tidak pernah menyebut istilah "strategi bisnis" atau "membangun loyalitas pelanggan". Mereka cuma hidup dengan petuah ini, seolah-olah itu hal yang paling biasa di dunia.
Tapi Jujur, Menjalankannya Tidak Mudah
Di sini saya tidak mau berpura-pura suci.
Sampai hari ini, saya masih sering hitung-hitungan. Masih ada rasa sedikit "nyesek" kalau ada pembeli yang nawar sampai ke tulang, atau ada tetangga yang utangnya lama sekali lunasnya. Saya bukan orang suci. Saya cuma penjaga toko kecil yang hatinya masih sering riuh oleh angka-angka.
Mungkin justru karena itu petuah ini ada. Kalau ikhlas itu mudah, leluhur kita tidak perlu meninggalkan pengingat. Petuah ini sepertinya bukan diturunkan untuk orang-orang yang sudah sempurna, tapi untuk orang-orang seperti saya — yang masih sering kesal karena dua ribu rupiah, tapi sedang berusaha belajar supaya tidak kesal lagi.
Bukan Berarti Kita Boleh Diinjak-Injak
Satu hal yang pelan-pelan saya pahami: petuah ini bukan suruhan untuk menjadi keset atau membiarkan diri dimanfaatkan orang.
Leluhur kita itu cerdas. Yang diajarkan adalah kelapangan hati, bukan kebodohan. Ada kalanya kita tetap harus tegas, harus bilang "tidak", harus menagih yang memang hak kita. Itu wajar dan tidak dosa.
Tapi kalau yang hilang cuma "satak" — cuma receh, cuma sedikit, cuma hal kecil — dan yang kita dapat adalah hati yang tenang, tetangga yang rukun, dan langganan yang bertahun-tahun percaya... mungkin, itu memang perdagangan yang lebih untung.
Kakek saya tidak pernah mengajarinya dengan ceramah. Beliau mengajarinya dengan cara mengembalikan mainan saya ke teman yang merebutnya, lalu membelikan kami berdua es lilin. Kami berdua senang, dan saya dapat teman baru. Sekarang saya mengerti, hari itu kakek sedang "tuna satak, bathi sanak".
Penutup: Pengingat untuk Diri Sendiri
Catatan ini saya tulis bukan untuk menasihati siapa-siapa. Saya sendiri masih jauh dari kata ikhlas. Ini cuma pengingat untuk diri saya sendiri, supaya lain kali kalau ada "dua ribu rupiah" yang bocor dari laci kasir, saya bisa tersenyum lagi seperti kakek.
Kalau ada teman yang kebetulan mampir dan punya cerita serupa — tentang belajar mengikhlaskan hal kecil demi hal yang lebih besar — saya akan senang sekali membacanya di kolom komentar. Kita belajar pelan-pelan, bareng-bareng. 🤍
🙏 Catatan Kecil: Penulis bukanlah budayawan, bukan ahli bahasa Jawa, dan bukan orang yang sudah "selesai" dengan dirinya sendiri. Hanya seorang penjaga toko yang gemar merenung dan berusaha memahami pesan leluhur sebisanya. Jika ada keliru dalam memaknai, dengan rendah hati saya mohon koreksi dari para sesepuh dan teman-teman yang lebih tahu.
📖 KAMUS KECIL
- Tuna — Rugi, kehilangan, atau tidak memiliki (seperti dalam kata "tuna wisma").
- Satak — Dua ratus; dalam petuah ini melambangkan jumlah yang kecil atau receh.
- Bathi — Untung, laba.
- Sanak — Saudara, kerabat, atau keluarga (seperti dalam sapaan "para sanak").