🔥 CATATAN PENTING DARI ADMIN (Update Agustus 2026):Artikel ini pertama kali saya tulis bertahun-tahun lalu dan alhamdulillah pernah membantu banyak pelajar. Matur nuwun!Supaya tetap menjadi rujukan terlengkap, artikel ini saya perbarui dengan pembagian 3 macam dwilingga yang paling jelas (wantah, salin swara, dan semu), arti setiap contoh, tuladha ukara, plus tips membedakan dengan dwipurwa & dwiwasana yang sering membuat bingung. Monggo disimak!
| "Tiga macam dwilingga: wantah, ganti vokal, dan semu. 🤍" |
📖 Segarkan Ingatan: Apa Itu Tembung Rangkep Dwilingga?
Tembung rangkep dwilingga yaiku tembung rangkep kang linggane (kata dasarnya) diucapake kaping pindho — kata yang diulang, baik utuh maupun dengan perubahan bunyi
.
Kata dwilingga berasal dari:
- Dwi = dua
- Lingga = kata dasar
Jadi dwilingga secara harfiah berarti dua kata dasar. Tapi dalam praktiknya, bahasa Jawa membagi dwilingga menjadi tiga macam — dan inilah yang sering bikin adik-adik bingung di ujian.
📋 3 Macam Tembung Rangkep Dwilingga (Lengkap + Arti)
1. Dwilingga Wantah (Utuh)
Dwilingga wantah yaiku tembung rangkep kang kata dasare diulang kanthi wutuh — diulang seluruhnya tanpa perubahan apa pun
.
Ciri: kata pertama dan kedua sama persis.
2. Dwilingga Salin Swara
Dwilingga salin swara yaiku tembung rangkep kang kata dasare diulang kanthi ganti swara (vokal) — diulang tapi vokal pada suku kata terakhir berubah
.
Ciri: kata pertama dan kedua mirip tapi beda vokal (biasanya berganti antara a-i, a-u, o-a, dll).
3. Dwilingga Semu (Semu / Tidak Sebenarnya)
Dwilingga semu yaiku tembung rangkep kang katoné kaya dirangkep, padahal tembungé ora bisa dipisah — kelihatan seperti pengulangan, padahal kata itu adalah nama asli dari suatu benda, hewan, atau makanan
.
Ciri: kalau dipisah jadi satu kata, kata itu tidak punya makna sendiri atau maknanya sangat berbeda.
Tips cepat mengenali dwilingga semu: coba hilangkan pengulangannya. Apakah "undur" saja punya arti? "Onde" saja? "Kupu" saja? Kalau jawabannya tidak (atau artinya jadi aneh), maka itu dwilingga semu — namanya memang harus ganda.
🔍 Perbandingan: Dwilingga vs Dwipurwa vs Dwiwasana
Di luar dwilingga, bahasa Jawa punya dua jenis tembung rangkep lain yang sering tertukar di ujian:
Rumus cepat saat ujian:
- Kata utuh diulang → dwilingga
- Hanya suku kata depan diulang → dwipurwa
- Hanya suku kata belakang diulang → dwiwasana
✍️ Tuladha Ukara (Contoh Kalimat)
- "Bapak-bapak lagi nongkrong ing warung kopi." (Para bapak sedang nongkrong di warung kopi.) — dwilingga wantah
- "Dheweke bola-bali ngomong yen arep lunga." (Dia berulang-ulang bilang kalau mau pergi.) — dwilingga salin swara
- "Anakku seneng banget mangan onde-onde ing pasar." (Anakku suka banget makan onde-onde di pasar.) — dwilingga semu
- "Kupu-kupu sing ayu mau nglanglang ing kebon." (Kupu-kupu cantik itu terbang di kebun.) — dwilingga semu
- "Kanca-kanca padha mloya-mlayu nalika udan teka." (Teman-teman berlari bolak-balik saat hujan datang.) — dwilingga wantah + salin swara dalam satu kalimat!
💭 Renungan Penjaga Warung
Di warung saya, setiap hari tanpa sadar saya mengucapkan banyak dwilingga:
- "Monggo, ibu-ibu, arep tuku apa?" — dwilingga wantah
- "Pelanggan saya bola-bali tuku kopi sachet." — dwilingga salin swara
- "Dagang onde-onde lagi laris." — dwilingga semu
Bahasa Jawa memang indah — bahkan dalam pengulangan sederhana, ada aturan yang rapi. Tidak sembarang ulang — ada yang wutuh, ada yang ganti vokal, ada yang semu. Seperti musik yang punya irama.
💡 Penutup: Tiga Macam, Satu Bahasa yang Halus
Tiga macam dwilingga ini bukan untuk bikin bingung — tapi bukti bahwa bahasa Jawa itu rapi dan kaya. Setiap jenis pengulangan punya fungsi dan nuansa makna yang berbeda.
Sugeng sinau, adik-adik! Semoga tabel ini membantu PR dan ujian kalian. 🤍
🙏 Catatan Rendah Hati dari Admin: Admin blog ini bukan guru bahasa Jawa dan bukan ahli sastra. Saya hanyalah penjaga toko yang belajar dari buku-buku lama dan sesepuh. Jika para guru atau teman-teman yang lebih paham menemukan kekeliruan, mohon sudi mengoreksi dengan lembut di kolom komentar. Matur nuwun!
📖 KAMUS KECIL
- Dwilingga — pengulangan kata dasar secara utuh atau dengan perubahan vokal
- Dwilingga wantah — pengulangan utuh tanpa perubahan bunyi
- Dwilingga salin swara — pengulangan dengan perubahan vokal
- Dwilingga semu — pengulangan semu, kata itu memang aslinya ganda (nama benda/hewan)
- Dwipurwa — pengulangan suku kata pertama saja
- Dwiwasana — pengulangan suku kata terakhir saja
Tembung rangkep dwilingga artinya adalah kata dasar yang diulang. Memiliki tiga macam jenis yang ketiganya akan disebutkan di bawah ini.
Apa saja tiga jenis tembung lingga?
Berikut macam dan contohnya.
1. Tembung dwilingga padha swara.
contoh:
- mlaku-mlaku.
- bapak-bapak.
- kanca-kanca.
- abang-abang.
- kewan-kewan.
- bocah-bocah.
2. Tembung dwilingga salin swara.
contoh:
- bola-bali.
- wira-wiri.
- thingak-thinguk.
- unthag-untheg.
- gonta-ganti.
- mloya-mlayu.
3. Tembung dwilingga semu.
contoh:
- andheng-andheng.
- ondhe-ondhe.
- athi-athi.
- undur-undur.
Itulah ketiga macam tembung rangkep dwilingga.
