Curahan Hati Seorang Penulis

Epok Itu Bukan Sekadar Wadah Kinang: 2 Arti Epok yang Hanya Dipahami Wong Gresik Asli

Kalau kamu wong Jawa Timur asli, terutama Gresik, Lamongan, Sidoarjo, pasti pernah dengar kata "epok". Tapi kalau kamu tanya ke anak zaman now, atau tanya ke Google, mereka bingung. "Epok itu apa? Tempat makan?"

Padahal epok itu benda keramat di rumah mbah kita dulu. Dan kata ini punya dua nyawa, dua arti yang beda jauh. Mari kita bongkar sebelum punah, bosku.

apa itu epok wadah kinangan mbah di gresik dan arti epok epok pura pura tidak tahu

Epok adalah wadah kecil tempat istirahatnya kinangan mbah, bukan tempat sampah. Dan epok-epok artinya pura-pura tidak tahu.

1. Epok Sebagai Wadhah Kinangan - Tempat Istirahatnya Suruh Mbah

Ini arti pertama dan paling asli.

Di Jawa Timur, epok artine wadhahe kinangan. Wadah kecil, biasanya dari plastik bulat kecil, atau dari anyaman bambu halus, atau kadang dari tutup bekas wadah permen, yang dipakai buat naruh kinangan mbah.

Prosesi kinangan itu begini, buat yang belum pernah lihat:

Mbah (biasanya mbah putri) ngambil daun suruh, diolesi gamping (enjet), ditaburi kinang (tembakau), ditambah gambir sedikit, terus diuntel (digulung). Abis itu dimamah (dikunyah) pelan-pelan sampai keluar air merahnya.

Nah, saat mbah mau makan, mau minum, mau shalat, atau mau ngobrol lama, kinangan yang masih setengah dimamah itu tidak dibuang. Sayang. Diselipin di mana? Di epok itu tadi.

Ditaruh di epok, diletakkan di dekatnya. Nanti setelah selesai makan, kinangan itu diambil lagi, dimamah lagi. Sampai habis sarinya.

Jadi epok itu bukan tempat sampah, tapi tempat istirahatnya kinang. Tempat singgah sementara. Benda kecil tapi penuh tata krama.

Ciri-ciri epok mbah di Gresik:

  • Bentuknya kecil: Segenggaman tangan, gampang ditaruh di samping cangkir kopi.
  • Sudah ada bekas merah: Karena air kinang itu warnanya merah kecoklatan, jadi epok pasti ada noda merahnya. Itu bukan kotor, itu sejarah.
  • Sakral: Anak kecil dilarang mainin epok. "Ojo dolanan epok e mbah!" Karena itu barang pribadi mbah.

Sekarang benda ini sudah langka. Mbah-mbah yang nginang sudah banyak yang sedo (wafat). Epoknya ikut hilang, dibuang anak cucu yang tidak tahu artinya. Padahal itu warisan budaya.

2. Epok-Epok Sebagai Sifat - Berlagak Tidak Tahu Untuk Mengalihkan Perhatian

Ini arti kedua, yang lebih dalam secara psikologi wong Jawa.

Kalau ada orang bilang: "Ojo epok-epok, yo!" atau "Wonge epok-epok tok!"

Artinya bukan dia punya wadah kinang. Artinya dia berlagak tidak mengetahui, pura-pura bodoh, pura-pura tidak paham, untuk mengalihkan perhatian.

Contoh di warung Gresik:

Ada pembeli hutang 50 ribu sudah 3 bulan. Pas ditagih, dia jawab: "Hutang opo? Kapan? Lali aku." Padahal jelas-jelas dia yang hutang. Nah itu namanya epok-epok.

Ada tetangga yang jelas-jelas lihat barang kita jatuh, tapi pas ditanya "lihat gak?", dia jawab "gak ruh aku, epok-epok ae". Berlagak tidak tahu.

Dalam bahasa Indonesia, ini mirip dengan "pura-pura bego" atau "playing victim". Tapi versi Jawa Timur lebih halus, lebih nusuk. Epok-epok itu bukan sekadar tidak tahu, tapi sengaja dibuat tidak tahu biar tidak disalahkan.

Kenapa disebut epok-epok? Filsafatnya menarik, bosku. Kinang yang ditaruh di epok itu kan disembunyikan sebentar, ditutup, disimpan, nanti baru dikeluarkan lagi. Nah orang yang epok-epok itu juga begitu, kebenaran disembunyikan dulu di "epok" pura-pura tidak tahunya, biar aman.

Versi Jawa Tengah Beda Lagi?

Betul bosku, kamu jeli.

Kalau di Jawa Tengah, terutama Jogja - Solo, kata epok atau epok-epok jarang dipakai. Mereka lebih pakai istilah "ethok-ethok" yang artinya sama: pura-pura.

"Ethok-ethok turu" artinya pura-pura tidur. "Ethok-ethok ora krungu" artinya pura-pura tidak dengar.

Jadi akarnya sama, tapi pelafalannya beda. Di Jatim jadi epok-epok, di Jateng jadi ethok-ethok. Beda lidah, beda logat. Kalau di Gresik lebih tegas "epok", kalau di Solo lebih halus "ethok".

Dan untuk arti wadah kinang, di Jateng biasanya disebut "bokoran" atau "klemuk", tidak disebut epok. Jadi memang epok sebagai wadah kinang itu khas Jawa Timuran, khususnya pesisir utara seperti Gresik, Lamongan, Tuban.

Penutup: Jangan Biarkan Epok Punah

Epok itu kecil, tapi ceritanya besar.

Dari benda kecil itu kita belajar tentang kesederhanaan mbah kita. Tidak ada yang dibuang sia-sia. Kinang setengah dimamah pun disimpan, tidak mubazir. Itu pelajaran anti boros.

Dari kata epok-epok, kita belajar tentang karakter manusia. Bahwa ada orang yang memilih pura-pura tidak tahu demi menyelamatkan mukanya.

Kalau di rumahmu masih ada epok peninggalan mbah, jangan dibuang ya bosku. Cuci, simpan. Foto. Itu bukan sampah, itu museum kecil warisan Gresik. Tulisin: "Ini epok e Mbah Buyut, tahun 1980-an". Biar anak cucumu nanti tahu, bahwa mbahnya dulu punya budaya nginang yang sopan dan penuh makna.

Renungan Penjaga Toko Gresik

Aku masih ingat, di warungku dulu ada seorang mbah langganan, tiap beli gula 1/4 kg, sambil nginang. Epoknya dia taruh di atas etalase, kecil, sudah merah-merah. Kalau dia lupa bawa pulang, aku simpenin. Besok dia ambil lagi. "Epokku ojo ilang yo, Le," katanya.

Sekarang mbah itu sudah sedo. Epoknya masih ada di laci warungku. Tidak aku buang. Setiap lihat epok itu, aku ingat mbah itu. Ingat zaman dimana orang masih pelan-pelan, tidak buru-buru seperti sekarang. Zaman dimana kinang saja ada tempat istirahatnya, tidak langsung dibuang. Apalagi manusia, harusnya lebih punya tempat istirahat untuk hatinya.

Mungkin warung kita ini adalah epok untuk banyak orang, bosku. Tempat singgah sebentar, cerita, istirahat, sebelum lanjut jalan lagi.

Disclaimer Budaya

Artikel ini adalah catatan budaya lisan dari penuturan warga Gresik dan pengalaman pribadi penulis sebagai penjaga warung di pesisir Jawa Timur. Istilah epok bisa berbeda arti di daerah lain, bahkan beda desa bisa beda makna. Admin bukanlah ahli bahasa Jawa atau budayawan, hanya perangkum cerita dari mbah-mbah sekitar. Jika ada perbedaan versi di tempatmu, itu wajar, karena bahasa Jawa itu kaya dan berbeda-beda logatnya. Tujuannya bukan untuk menentukan mana yang paling benar, tapi untuk mendokumentasikan agar tidak hilang.

Kamus Kecil

1. Kinangan / Nginang: Tradisi mengunyah daun sirih, kapur sirih, gambir, dan tembakau, biasanya dilakukan orang tua zaman dulu.
2. Suruh: Bahasa Jawa untuk daun sirih.
3. Gamping / Enjet: Kapur sirih yang dipakai untuk menginang.
4. Epok-Epok / Ethok-Ethok: Berpura-pura tidak tahu, berlagak bodoh untuk mengalihkan perhatian atau menghindari tanggung jawab.
5. Wadhah: Bahasa Jawa untuk wadah atau tempat.

Share:

Apa Itu Clunthang? Beda Daerah Beda Arti - Versi Jawa Timur dan Jawa Tengah

Kalau kemarin kita bahas Clunthang sebagai tarian putri keraton yang anggun, ternyata ada yang protes dari pembaca Jawa Timur: "Di sini Clunthang itu wadah jangkrik, mas!"

Siapa yang benar? Ternyata dua-duanya benar! Inilah uniknya bahasa Jawa. Satu kata yang sama, kalau pindah kabupaten saja artinya bisa beda total. Seperti kata "jajan" di Jawa Timur artinya kue, di Jawa Tengah bisa artinya belanja.

apa itu clunthang versi jawa timur wadah jangkrik dan versi jawa tengah tarian

Clunthang di Jawa Timur adalah wadah jangkrik dari bambu, sedangkan di Jawa Tengah adalah tarian gadis berhias dari keraton.

Kata Clunthang / Klunthang / Celunthang adalah contoh nyata kekayaan bahasa Jawa yang maknanya tergantung daerahnya. Mari kita bedah 3 versinya.

1. Clunthang Versi Jawa Timur: Wadah Jangkrik Kesayangan Anak-Anak

Ini versi yang paling membumi dan dekat dengan kita di kampung.

Di daerah Jawa Timur, khususnya di wilayah Mataraman (Kediri, Tulungagung, Blitar, Malang, Nganjuk) dan Arekan (Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Mojokerto), Clunthang artinya adalah wadah atau tempat untuk menaruh jangkrik.

Anak-anak di desa zaman dulu, sebelum ada HP, hiburannya adalah mencari jangkrik di sawah atau di kebun. Jangkrik yang didapat tidak langsung dibawa pulang pakai tangan, tapi dimasukkan ke dalam Clunthang.

Bentuk Clunthang versi Jatim ini adalah:

  • Terbuat dari bambu kecil yang ruasnya dilubangi, atau dari botol bekas, atau dari anyaman bambu.
  • Ukuran kecil, muat di saku celana.
  • Ada lubang-lubang kecil untuk sirkulasi udara agar jangkrik tidak mati.
  • Kadang diisi daun pisang kering biar jangkrik betah.
  • Di bagian tutupnya ada tali rafia biar bisa dikalungkan.

Bagi anak-anak, Clunthang adalah harta karun. Isinya bisa jangkrik aduan yang kalau mengerik suaranya keras. Sore-sore, anak-anak akan adu jangkrik di depan rumah. Siapa jangkriknya paling keras, dia yang menang. Clunthang adalah kandang portable untuk petarung kecil mereka.

Istilah yang mirip di daerah lain untuk wadah jangkrik ini ada yang menyebut Kurungan Jangkrik, Kothak Jangkrik, atau Sungga. Tapi di Jatim Timur-an, namanya tetap Clunthang.

2. Clunthang Versi Jawa Tengah & Yogyakarta: Tarian Gadis Berhias yang Anggun

Ini versi yang sudah kita bahas kemarin, versi keraton yang halus.

Di Jawa Tengah (Solo, Klaten) dan Yogyakarta, Clunthang adalah nama sebuah Gendhing (lagu gamelan) dan nama sebuah tarian klasik: Tari Golek Clunthang.

Artinya bukan wadah, tapi sebuah karya seni tinggi.

Maknanya: Gadis remaja yang sedang berhias diri di depan cermin sebagai simbol pencarian jati diri.

Gerakannya lembut, pakai kebaya dan sanggul, menceritakan gadis yang sedang betulin bedak dan kebayanya. Penciptanya adalah K.R.T. Sasmintadipura, empu tari dari Yogyakarta. Tari ini adalah tari putri pertama yang masuk ke istana dan menjadi materi wajib di ISI Yogyakarta.

Jadi, kalau orang Jogja dengar kata Clunthang, yang kebayang adalah gamelan yang mengalun pelan dan penari yang anggun, bukan bambu isi jangkrik.

3. Clunthang Versi Jawa Barat / Sunda: Bunyi Lonceng Kecil?

Di Jawa Barat, kata yang mirip adalah Kelinting atau Klunthing. Walau beda tulisan sedikit, akarnya sama dari bunyi.

Clunthang / Klunthing dalam bahasa Sunda dan sebagian Jawa Pesisir sering dikaitkan dengan bunyi "klunthing-klunthing" yaitu bunyi benda kecil yang beradu, seperti lonceng kecil di leher hewan (klintingan) atau bunyi wadah bambu yang ada isinya.

Dari sinilah mungkin asal-usulnya: Wadah jangkrik bambu kalau dibawa lari akan bunyi "klunthang-klunthang" karena jangkriknya lompat-lompat di dalam. Gendhing Clunthang juga mungkin dinamakan karena iramanya yang berbunyi ting-ting seperti lonceng kecil.

Ada juga makanan bernama Klanting / Clunthang yang teksturnya kenyal bunyi kalau digigit, tapi itu beda lagi.

Kenapa Satu Kata Bisa Beda Arti? Ini Penjelasannya

Dalam linguistik Jawa, ini disebut Geografi Dialek. Bahasa Jawa itu luas sekali, dari Banyuwangi sampai Cirebon.

Kata dasarnya adalah bunyi "Thang-Thing-Thung" yang menggambarkan bunyi benda berongga yang ada isinya. Dari bunyi itu, tiap daerah mengembangkannya:

  • Orang desa yang hidup dekat sawah: bunyi itu ada di bambu wadah jangkrik -> jadilah Clunthang = wadah jangkrik.
  • Orang keraton yang hidup dekat gamelan: bunyi itu ada di gamelan yang berbunyi ting-ting -> jadilah Clunthang = nama gendhing.

Jadi tidak ada yang salah. Dua-duanya benar sesuai konteks daerahnya. Inilah yang bikin bahasa Jawa kaya raya.

Penutup

Jadi, apa itu Clunthang? Jawabannya tergantung kamu orang mana. Kalau kamu tanya ke anak kecil di Gresik, Tulungagung, atau Kediri, Clunthang adalah bambu kecil tempat jangkrik aduan, harta karun masa kecil yang penuh kenangan sawah. Tapi kalau kamu tanya ke penari di Keraton Yogyakarta, Clunthang adalah tarian yang anggun tentang seorang gadis yang sedang mencari jati dirinya di depan cermin.

Perbedaan ini bukan untuk diperdebatkan siapa yang paling benar, tapi untuk dirayakan. Satu kata bisa menyimpan dua dunia yang berbeda: dunia anak desa yang riang mencari jangkrik di pematang sawah, dan dunia putri keraton yang halus dan penuh filosofi. Dua-duanya adalah wajah asli kebudayaan Jawa yang membentang dari pesisir sampai pegunungan.

Tugas kita bukan menyeragamkan artinya, tapi mencatat dan menjaga keduanya agar tidak hilang ditelan zaman. Karena kalau kedua makna Clunthang ini punah, kita kehilangan cerita masa kecil dan cerita keanggunan sekaligus.

Renungan Penjaga Toko - Beda Pembeli Beda Maunya

Cerita Clunthang yang beda daerah beda arti ini persis seperti kita jaga toko, bosku. Satu barang, beda pembeli beda namanya dan beda maunya.

Contoh: yang kita sebut "sampo sachet" dibilang orang tua "sampo eceran", dibilang anak muda "sachet-an". Yang kita sebut "kerupuk" dibilang orang Sunda "kurupuk". Sama barangnya, beda sebutannya.

Sebagai penjaga toko, kita harus luwes seperti bahasa Jawa itu sendiri. Jangan kaku. Kalau ada pembeli dari Jatim bilang "mas, ada clunthang nggak?", jangan langsung dikira mau nari. Tanya dulu: "Clunthang jangkrik ta mas?" Kalau ada pembeli dari Jogja bilang Clunthang, jangan dikasih bambu, tapi ajak ngobrol soal tari.

Hidup di Jawa Timur ini kita harus ngerti banyak bahasa. Luwes, adaptif, dan tidak mudah menyalahkan orang lain kalau beda istilah. Itulah kunci toko laris: mengerti bahasa pembelinya.

Disclaimer

Artikel ini ditulis untuk tujuan informasi dan edukasi budaya dialek Jawa umum, BUKAN sebagai rujukan kamus bahasa baku. Admin blog ini bukan ahli bahasa Jawa atau linguis, hanya pemerhati dan orang Jawa Timur yang merangkum dari pengalaman hidup, cerita warga, dan sumber terpercaya seperti ISI Yogyakarta dan repository UNJ. Perbedaan arti Clunthang di tiap desa bisa berbeda-beda, bahkan dalam satu kecamatan bisa beda lagi. Untuk penelitian bahasa yang lebih mendalam, silakan merujuk ke Balai Bahasa Jawa Timur atau Kamus Besar Bahasa Jawa (Bausastra Jawa).

Kamus Kecil

1. Clunthang / Klunthang (Versi Jatim): Wadah kecil dari bambu atau botol untuk menaruh jangkrik hasil tangkapan anak-anak.
2. Clunthang (Versi Jateng/DIY): Nama gendhing gamelan Jawa dan nama Tari Golek Clunthang yang artinya gadis yang sedang berhias diri.
3. Geografi Dialek: Ilmu yang mempelajari perbedaan arti satu kata karena perbedaan wilayah geografis.
4. Jemparing: Panahan tradisional Jawa.
5. Kurungan / Sungga: Istilah lain untuk wadah jangkrik di beberapa daerah Jawa.
6. Gendhing: Lagu atau komposisi musik gamelan Jawa.

Share:

Apa Itu Endhong? Tempat Panah Tradisional Jawa yang Hampir Punah

Kalau kemarin kita sudah bahas Mranggi sebagai pembuat warangka keris dan Clunthang sebagai tarian gadis berhias, sekarang kita bahas pasangannya: Endhong.

Banyak orang Jawa sendiri sudah lupa apa itu Endhong. Anak muda sekarang taunya tempat panah itu tas punggung di film-film kartun. Padahal, di tradisi Jawa, Endhong punya bentuk, makna, dan filosofi yang sangat indah dan sakral.

apa itu endhong tempat panah tradisional jawa jemparingan
Endhong adalah tempat anak panah tradisional Jawa, pasangan dari Gendewa (busur panah).

Endhong adalah istilah dalam bahasa Jawa yang artinya adalah tempat atau wadah untuk menyimpan anak panah. Dalam bahasa Indonesia disebut Tabung Panah atau dalam bahasa internasional disebut Quiver.

Kalau busur panahnya disebut Gendewa, maka Endhong adalah rumahnya anak panah. Tanpa Endhong, seorang pemanah Jawa zaman dulu tidak bisa berperang atau berburu.

Bentuk dan Bahan Endhong Jawa

Endhong Jawa berbeda dengan Endhong di film-film Hollywood yang terbuat dari kulit dan digendong di punggung.

Endhong tradisional Jawa memiliki ciri khas:

  • Bahan: Terbuat dari kayu yang dilapisi kulit, atau full kulit sapi / kerbau yang tebal, atau dari bambu anyam yang dilapisi kain. Untuk bangsawan, Endhong dilapisi beludru dan dihiasi ukiran.
  • Bentuk: Berbentuk tabung panjang, bagian atas terbuka untuk mengambil anak panah, bagian bawah tertutup. Panjangnya sekitar 70-90 cm, menyesuaikan panjang anak panah Jawa yang disebut Jemparing.
  • Cara Memakai: Tidak selalu digendong di punggung seperti Robin Hood. Endhong Jawa seringnya diselipkan di pinggang sebelah kiri, atau disandang di bahu, atau diletakkan di atas kuda saat berburu.
  • Isinya: Satu Endhong biasanya berisi 20-30 anak panah Jemparing lengkap dengan bulu ayam di ekornya.

Endhong dalam Tradisi Keraton dan Perang Jawa

Di zaman Kerajaan Mataram, Majapahit, dan Demak, Endhong adalah perlengkapan wajib prajurit pemanah yang disebut Prajurit Jemparing.

Ada dua jenis Endhong:

1. Endhong Perang: Bentuknya sederhana, kuat, terbuat dari kulit tebal anti air. Fungsinya murni untuk perang. Tidak ada hiasan.

2. Endhong Pusaka dan Upacara: Ini yang indah. Dipakai untuk upacara keraton, latihan panahan Jemparingan di keraton, dan sebagai pusaka. Dilapisi kain beludru merah atau hitam, dihiasi benang emas, dan ada ukiran simbol keraton. Endhong ini tidak untuk perang, tapi untuk menunjukkan status dan keagungan.

Sampai sekarang, tradisi panahan tradisional Jawa Jemparingan masih ada di Keraton Yogyakarta. Pemanahnya duduk bersila dan memanah dengan gaya khas. Endhong tetap dipakai, diselipkan di pinggang.

Bedanya Endhong, Warangka, dan Wadah Pusaka Lain

Biar tidak bingung, ini bedanya istilah wadah pusaka Jawa yang kemarin kita bahas:

Nama Fungsi Isinya
Warangka Wadah Keris Keris / Tombak pendek
Endhong Wadah Anak Panah Anak Panah / Jemparing
Sarung / Kajoran Wadah Pedang Pedang

Jadi, kalau Mranggi adalah pengrajin yang membuat Warangka, maka ada pengrajin khusus juga yang membuat Endhong, meski sekarang sudah sangat langka dan hampir punah.

Kenapa Endhong Hampir Punah?

Sama seperti Mranggi, pengrajin Endhong juga hampir hilang karena:

  1. Panah Tidak Lagi Jadi Senjata Perang: Sejak ada senapan, panah tidak dipakai perang lagi. Jadi Endhong tidak dibutuhkan.
  2. Jemparingan Hanya Ada di Keraton: Hanya sedikit abdi dalem keraton yang masih bisa membuat Endhong dengan pakem yang benar.
  3. Kalah dengan Tas Panah Modern: Atlet panahan modern sekarang pakai quiver dari plastik dan kain sintetis pabrikan, lebih ringan dan murah.
  4. Bahan Baku Kulit Asli Mahal: Kulit sapi tebal yang bagus sekarang mahal dan sulit dicari.

Penutup

Jadi, apa itu Endhong? Endhong adalah tempat panah tradisional Jawa, rumah bagi anak panah Jemparing. Bentuknya mungkin sederhana, hanya tabung dari kulit, tapi maknanya dalam. Ia melambangkan kesiapan seorang kesatria. Seorang pemanah Jawa tidak akan pergi tanpa Endhong yang penuh, sama seperti kita tidak akan pergi jualan tanpa modal yang cukup.

Di zaman sekarang, Endhong mungkin tidak lagi dipakai untuk perang, tapi ia hidup dalam tradisi Jemparingan di Keraton Yogyakarta. Ia menjadi pengingat bahwa leluhur kita adalah pemanah-pemanah hebat yang menjunjung tinggi konsentrasi, ketenangan, dan keahlian. Kalau warangka adalah pakaian untuk keris, maka Endhong adalah rumah yang aman untuk anak panah agar tidak hilang dan siap dipakai kapan saja.

Melestarikan nama seperti Endhong berarti melestarikan kosakata Jawa yang kaya. Jangan sampai anak cucu kita nanti hanya tahu kata "quiver" dari game, tapi tidak tahu bahwa nenek moyangnya punya kata sendiri yang jauh lebih indah: Endhong.

Renungan Penjaga Toko - Kita Juga Punya Endhong Sendiri

Kalau dipikir-pikir, toko kelontong kita ini mirip Endhong lho bosku. Endhong adalah tempat untuk menyimpan anak panah agar siap dipakai saat dibutuhkan. Toko kita adalah tempat untuk menyimpan barang-barang kebutuhan agar siap dipakai tetangga saat dibutuhkan.

Anak panah kalau ditaruh sembarangan, ujungnya tumpul dan bulunya rusak. Barang di toko kalau ditata sembarangan, debuan dan tidak laku. Endhong yang bagus akan menjaga anak panahnya tetap tajam dan rapi. Toko yang bersih dan rapi juga akan menjaga barangnya tetap bagus dan pembeli betah.

Seorang pemanah yang hebat tidak hanya hebat memanahnya, tapi juga hebat merawat Endhong dan anak panahnya. Seorang penjaga toko yang hebat juga bukan hanya hebat jualannya, tapi hebat merawat tokonya. Jadi, sudahkah kita merawat "Endhong" kita hari ini? Sudahkah kita tata barang kita dengan rapi agar "anak panah" kita siap ditembakkan (dijual) kapan saja?

Disclaimer

Artikel ini ditulis untuk tujuan informasi dan edukasi budaya Jawa umum, BUKAN sebagai rujukan akademik sejarah persenjataan yang baku. Admin blog ini bukan abdi dalem keraton, bukan ahli Jemparingan, hanya pemerhati budaya yang merangkum dari berbagai sumber terpercaya seperti Keraton Yogyakarta, jurnal ISI, dan budayawan Jawa. Untuk pengetahuan mendalam tentang Jemparingan dan pembuatan Endhong yang pakem, silakan belajar langsung di Paguyuban Jemparingan Keraton Yogyakarta atau museum senjata tradisional.

Kamus Kecil

1. Endhong: Istilah bahasa Jawa untuk tempat atau wadah anak panah, disebut juga quiver atau tabung panah.
2. Jemparing / Jemparingan: Tradisi panahan tradisional Jawa gaya Mataraman, di mana pemanah duduk bersila.
3. Gendewa: Istilah Jawa untuk busur panah.
4. Jemparing / Arrow: Anak panah Jawa yang terbuat dari bambu dengan ujung besi dan bulu di ekornya.
5. Warangka: Wadah atau sarung untuk keris, dibuat oleh pengrajin Mranggi.
6. Quiver: Istilah internasional (Inggris) untuk tempat anak panah.

Share:

Makna Tari Golek Clunthang: Tarian Gadis Berhias Pencari Jati Diri yang Hampir Punah

Kalau kita dengar kata "Clunthang", mungkin terdengar asing. Bukan bahasa Jawa sehari-hari untuk jualan di warung. Tapi di dalam tembok Keraton Yogyakarta dan Mangkunegaran Solo, Clunthang adalah nama yang sangat terkenal dan cantik.

Clunthang bukanlah kata sifat, tapi sebuah nama Gendhing atau lagu gamelan Jawa. Karena tradisi di keraton, sebuah tarian akan dinamai sesuai gendhing yang mengiringinya. Maka lahirlah nama Tari Golek Clunthang, yaitu Tari Golek yang diiringi oleh Gendhing Clunthang.


makna tari golek clunthang tarian gadis berhias pencari jati diri yang hampir punah

Tari Golek Clunthang menggambarkan gadis remaja yang sedang berhias diri sambil mencari jati dirinya.

Lalu apa makna tarian ini? Kenapa disebut tarian gadis berhias pencari jati diri?

Sejarah Lahirnya Tari Golek Clunthang

Sejarahnya sangat menarik. Tari Golek awalnya terinspirasi dari Tari Ledek atau Tayub, tarian rakyat yang ada di pedesaan. Tarian rakyat yang dianggap kurang halus itu kemudian dibawa masuk ke dalam istana dan diperhalus gerakannya.

Tari Golek Clunthang termasuk tari tunggal putri pertama yang masuk ke istana Yogyakarta. Penciptanya adalah K.R.T. Sasmintadipura, seorang empu tari Yogyakarta yang menciptakan banyak tari Golek seperti Golek Ayun-Ayun, Golek Lambangsari, dan Golek Clunthang sendiri.

Pada awalnya, tari ini hanya ada di Yogyakarta. Namun karena adanya hubungan kekerabatan melalui pernikahan antara Gusti Kanjeng Ratu Timur (putri Sultan Hamengkubuwono VII) dengan Sri Mangkunegara VII, akhirnya Kadipaten Mangkunegaran di Surakarta juga memiliki versi Tari Golek Clunthang yang disesuaikan dengan gaya Mangkunegaran yang lebih lincah.

Makna Filosofis: Gadis yang Sedang Berhias dan Mencari Jati Diri

Inilah inti dari Tari Golek Clunthang. Tarian ini tidak menceritakan perang atau cinta-cintaan. Tarian ini menceritakan satu momen yang sangat intim:

Seorang gadis remaja yang baru menginjak usia akil baligh, sedang berhias diri di depan cermin.

Gerakannya menggambarkan: membetulkan sanggul, memakai bedak, merapikan kebaya, melihat kaca, tersenyum malu-malu. Gerakannya lembut, gemulai, penuh kehati-hatian.

Tapi makna di balik berhias itu sangat dalam dalam filosofi Jawa:

  • Clunthang / Berhias = Pencerminan Pencarian Jati Diri. Gadis itu tidak hanya berdandan fisik, tapi sedang mencari "siapa aku". Masa transisi dari anak-anak menjadi wanita dewasa. Masa di mana dia mulai malu, mulai sadar akan kecantikan, dan mulai mencari perannya di dunia.
  • Gerak yang Halus = Latihan Kehalusan Budi. Setiap gerakan Golek Clunthang mengajarkan kehalusan, kesabaran, dan kelembutan seorang wanita Jawa. Tidak boleh grusa-grusu.
  • Tatapan ke Cermin = Introspeksi Diri. Bukan sekadar melihat cantik atau tidak, tapi melihat ke dalam diri sendiri. Apakah aku sudah pantas?

Karakteristik Geraknya yang Khas

Menurut penelitian dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dan Sanggar Ayodya Pala, Tari Golek Clunthang memiliki ciri khas:

  • Memiliki 3 gugus gerak, 7 kalimat gerak, dan 15 frase gerak.
  • Desain geraknya sangat lengkap: ada desain lurus, lengkung, rendah, tinggi, simetris, asimetris.
  • Busana yang dipakai adalah busana khas Golek: kebaya, kain batik, dan sanggul Jawa dengan aksesoris.
  • Iringannya wajib Gendhing Clunthang yang dimainkan dengan gamelan pelog.

Kenapa Tarian Seindah Ini Hampir Punah?

Sama seperti profesi Mranggi yang kemarin kita bahas, Tari Golek Clunthang juga terancam punah. Penyebabnya:

  1. Tidak Populer di Panggung Modern: Anak muda lebih suka tari kontemporer atau K-Pop dance daripada tari klasik yang gerakannya lambat dan butuh penghayatan.
  2. Butuh Waktu Lama untuk Belajar: Untuk bisa membawakan Golek Clunthang dengan benar, butuh latihan bertahun-tahun di sanggar, tidak bisa instan.
  3. Hanya Ada di Keraton dan Sanggar Tertentu: Tidak diajarkan di sekolah umum. Hanya ada di ISI Yogyakarta, ISI Surakarta, dan beberapa sanggar seperti Sanggar Ayodya Pala.
  4. Kostum dan Gamelan Mahal: Untuk pentas satu kali butuh biaya besar untuk sewa gamelan dan kostum lengkap.

Penutup

Tari Golek Clunthang bukan sekadar tarian untuk ditonton. Ia adalah cermin masa remaja kita semua. Setiap gadis pasti pernah mengalami fase Clunthang: fase di depan kaca, bingung antara masih ingin main tapi juga ingin terlihat dewasa dan cantik. Fase mencari jati diri.

Di zaman sekarang di mana filter Instagram dan TikTok membuat standar cantik jadi instan, makna Clunthang justru menjadi sangat relevan. Ia mengajarkan bahwa berhias yang sejati bukan hanya memoles wajah, tapi memoles budi dan hati. Cantik luar harus seimbang dengan cantik dalam. Itulah pencarian jati diri yang sebenarnya.

Jika tarian seindah ini punah, kita tidak hanya kehilangan gerakan tari, tapi kita kehilangan sebuah filosofi tentang bagaimana menjadi wanita Jawa yang halus, sabar, dan mengenal dirinya sendiri. Semoga sanggar-sanggar tari tetap setia menjaga Clunthang tetap hidup.

Renungan Untuk Kita Orang Tua yang Punya Anak Gadis

Kita yang punya anak gadis yang mulai SMP, pasti sering lihat anak kita lama di depan kaca. Gonta-ganti baju, coba-coba lipstik bunda. Kadang kita sebel, "Lamanya, dandan terus!"

Padahal itu adalah fase Clunthang-nya dia. Dia sedang mencari jati dirinya. Dia sedang bertanya: "Apakah aku cantik? Apakah aku sudah dewasa?" Tugas kita bukan memarahi, tapi membimbing. Bilang: "Cantik nak, tapi cantiknya ditambah dengan sopan santun ya. Baju bagus kalau ditambah senyum dan bahasa yang halus, jadi makin cantik."

Seperti Mranggi yang membuatkan warangka yang indah untuk keris, kita sebagai orang tua juga sedang membuatkan "warangka" untuk anak gadis kita: warangka berupa akhlak dan budi pekerti yang indah untuk membungkus kecantikannya.

Disclaimer

Artikel ini ditulis untuk tujuan informasi dan edukasi budaya umum, BUKAN sebagai rujukan akademik tari yang baku. Admin blog ini bukan ahli tari, bukan dosen ISI, hanya pemerhati budaya yang merangkum dari sumber terpercaya seperti repository ISI Yogyakarta, ISI Surakarta, dan jurnal tari UNJ. Untuk pembelajaran tari yang benar dan gerakan yang pakem, silakan belajar langsung di sanggar tari klasik atau di Institut Seni Indonesia terdekat.

Kamus Kecil

1. Golek: Jenis tari klasik Jawa gaya putri yang gerakannya lembut menggambarkan gadis remaja.
2. Clunthang / Klunthang: Nama sebuah gendhing (lagu gamelan) Jawa yang menjadi iringan tari, yang maknanya adalah gadis yang sedang berhias diri.
3. Gendhing: Komposisi musik gamelan Jawa yang mengiringi tarian atau pertunjukan wayang.
4. Golek Clunthang: Tari Golek yang diiringi Gendhing Clunthang, menceritakan gadis remaja yang berhias dan mencari jati diri.
5. Akil Baligh: Masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa.
6. Mangkunegaran: Kadipaten atau kerajaan kecil di Surakarta yang juga menjadi pusat kebudayaan Jawa selain Keraton Solo dan Jogja.

Share: