Kalau kamu wong Jawa Timur asli, terutama Gresik, Lamongan, Sidoarjo, pasti pernah dengar kata "epok". Tapi kalau kamu tanya ke anak zaman now, atau tanya ke Google, mereka bingung. "Epok itu apa? Tempat makan?"
Padahal epok itu benda keramat di rumah mbah kita dulu. Dan kata ini punya dua nyawa, dua arti yang beda jauh. Mari kita bongkar sebelum punah, bosku.
1. Epok Sebagai Wadhah Kinangan - Tempat Istirahatnya Suruh Mbah
Ini arti pertama dan paling asli.
Di Jawa Timur, epok artine wadhahe kinangan. Wadah kecil, biasanya dari plastik bulat kecil, atau dari anyaman bambu halus, atau kadang dari tutup bekas wadah permen, yang dipakai buat naruh kinangan mbah.
Prosesi kinangan itu begini, buat yang belum pernah lihat:
Mbah (biasanya mbah putri) ngambil daun suruh, diolesi gamping (enjet), ditaburi kinang (tembakau), ditambah gambir sedikit, terus diuntel (digulung). Abis itu dimamah (dikunyah) pelan-pelan sampai keluar air merahnya.
Nah, saat mbah mau makan, mau minum, mau shalat, atau mau ngobrol lama, kinangan yang masih setengah dimamah itu tidak dibuang. Sayang. Diselipin di mana? Di epok itu tadi.
Ditaruh di epok, diletakkan di dekatnya. Nanti setelah selesai makan, kinangan itu diambil lagi, dimamah lagi. Sampai habis sarinya.
Jadi epok itu bukan tempat sampah, tapi tempat istirahatnya kinang. Tempat singgah sementara. Benda kecil tapi penuh tata krama.
Ciri-ciri epok mbah di Gresik:
- Bentuknya kecil: Segenggaman tangan, gampang ditaruh di samping cangkir kopi.
- Sudah ada bekas merah: Karena air kinang itu warnanya merah kecoklatan, jadi epok pasti ada noda merahnya. Itu bukan kotor, itu sejarah.
- Sakral: Anak kecil dilarang mainin epok. "Ojo dolanan epok e mbah!" Karena itu barang pribadi mbah.
Sekarang benda ini sudah langka. Mbah-mbah yang nginang sudah banyak yang sedo (wafat). Epoknya ikut hilang, dibuang anak cucu yang tidak tahu artinya. Padahal itu warisan budaya.
2. Epok-Epok Sebagai Sifat - Berlagak Tidak Tahu Untuk Mengalihkan Perhatian
Ini arti kedua, yang lebih dalam secara psikologi wong Jawa.
Kalau ada orang bilang: "Ojo epok-epok, yo!" atau "Wonge epok-epok tok!"
Artinya bukan dia punya wadah kinang. Artinya dia berlagak tidak mengetahui, pura-pura bodoh, pura-pura tidak paham, untuk mengalihkan perhatian.
Contoh di warung Gresik:
Ada pembeli hutang 50 ribu sudah 3 bulan. Pas ditagih, dia jawab: "Hutang opo? Kapan? Lali aku." Padahal jelas-jelas dia yang hutang. Nah itu namanya epok-epok.
Ada tetangga yang jelas-jelas lihat barang kita jatuh, tapi pas ditanya "lihat gak?", dia jawab "gak ruh aku, epok-epok ae". Berlagak tidak tahu.
Dalam bahasa Indonesia, ini mirip dengan "pura-pura bego" atau "playing victim". Tapi versi Jawa Timur lebih halus, lebih nusuk. Epok-epok itu bukan sekadar tidak tahu, tapi sengaja dibuat tidak tahu biar tidak disalahkan.
Kenapa disebut epok-epok? Filsafatnya menarik, bosku. Kinang yang ditaruh di epok itu kan disembunyikan sebentar, ditutup, disimpan, nanti baru dikeluarkan lagi. Nah orang yang epok-epok itu juga begitu, kebenaran disembunyikan dulu di "epok" pura-pura tidak tahunya, biar aman.
Versi Jawa Tengah Beda Lagi?
Betul bosku, kamu jeli.
Kalau di Jawa Tengah, terutama Jogja - Solo, kata epok atau epok-epok jarang dipakai. Mereka lebih pakai istilah "ethok-ethok" yang artinya sama: pura-pura.
"Ethok-ethok turu" artinya pura-pura tidur. "Ethok-ethok ora krungu" artinya pura-pura tidak dengar.
Jadi akarnya sama, tapi pelafalannya beda. Di Jatim jadi epok-epok, di Jateng jadi ethok-ethok. Beda lidah, beda logat. Kalau di Gresik lebih tegas "epok", kalau di Solo lebih halus "ethok".
Dan untuk arti wadah kinang, di Jateng biasanya disebut "bokoran" atau "klemuk", tidak disebut epok. Jadi memang epok sebagai wadah kinang itu khas Jawa Timuran, khususnya pesisir utara seperti Gresik, Lamongan, Tuban.
Penutup: Jangan Biarkan Epok Punah
Epok itu kecil, tapi ceritanya besar.
Dari benda kecil itu kita belajar tentang kesederhanaan mbah kita. Tidak ada yang dibuang sia-sia. Kinang setengah dimamah pun disimpan, tidak mubazir. Itu pelajaran anti boros.
Dari kata epok-epok, kita belajar tentang karakter manusia. Bahwa ada orang yang memilih pura-pura tidak tahu demi menyelamatkan mukanya.
Kalau di rumahmu masih ada epok peninggalan mbah, jangan dibuang ya bosku. Cuci, simpan. Foto. Itu bukan sampah, itu museum kecil warisan Gresik. Tulisin: "Ini epok e Mbah Buyut, tahun 1980-an". Biar anak cucumu nanti tahu, bahwa mbahnya dulu punya budaya nginang yang sopan dan penuh makna.
Renungan Penjaga Toko Gresik
Aku masih ingat, di warungku dulu ada seorang mbah langganan, tiap beli gula 1/4 kg, sambil nginang. Epoknya dia taruh di atas etalase, kecil, sudah merah-merah. Kalau dia lupa bawa pulang, aku simpenin. Besok dia ambil lagi. "Epokku ojo ilang yo, Le," katanya.
Sekarang mbah itu sudah sedo. Epoknya masih ada di laci warungku. Tidak aku buang. Setiap lihat epok itu, aku ingat mbah itu. Ingat zaman dimana orang masih pelan-pelan, tidak buru-buru seperti sekarang. Zaman dimana kinang saja ada tempat istirahatnya, tidak langsung dibuang. Apalagi manusia, harusnya lebih punya tempat istirahat untuk hatinya.
Mungkin warung kita ini adalah epok untuk banyak orang, bosku. Tempat singgah sebentar, cerita, istirahat, sebelum lanjut jalan lagi.
Disclaimer Budaya
Artikel ini adalah catatan budaya lisan dari penuturan warga Gresik dan pengalaman pribadi penulis sebagai penjaga warung di pesisir Jawa Timur. Istilah epok bisa berbeda arti di daerah lain, bahkan beda desa bisa beda makna. Admin bukanlah ahli bahasa Jawa atau budayawan, hanya perangkum cerita dari mbah-mbah sekitar. Jika ada perbedaan versi di tempatmu, itu wajar, karena bahasa Jawa itu kaya dan berbeda-beda logatnya. Tujuannya bukan untuk menentukan mana yang paling benar, tapi untuk mendokumentasikan agar tidak hilang.
Kamus Kecil
1. Kinangan / Nginang: Tradisi mengunyah daun sirih, kapur sirih, gambir, dan tembakau, biasanya dilakukan orang tua zaman dulu.
2. Suruh: Bahasa Jawa untuk daun sirih.
3. Gamping / Enjet: Kapur sirih yang dipakai untuk menginang.
4. Epok-Epok / Ethok-Ethok: Berpura-pura tidak tahu, berlagak bodoh untuk mengalihkan perhatian atau menghindari tanggung jawab.
5. Wadhah: Bahasa Jawa untuk wadah atau tempat.