Sore itu, hujan turun deras di luar warung. Seorang pelanggan muda masuk dengan baju yang basah kuyup, tapi wajahnya jauh lebih basah oleh air mata. Ia baru saja ditinggalkan oleh pasangan yang sudah lima tahun ia perjuangkan.
"Mas," katanya dengan suara bergetar, "kenapa kenyataan ini begitu kejam? Saya sudah membayangkan kami menikah, punya rumah, punya anak. Semua rencana sudah saya susun. Tapi kenapa kasunyatan-nya (kenyataannya) hancur seperti ini?"
 |
| "Kita sering menangis memeluk bayangan di dinding, dan lupa bahwa ada wujud asli yang nyata di dekat cahaya. π✨" |
Saya menyodorkan handuk kecil dan secangkir teh jahe hangat. "Le, penderitaanmu hari ini bukan karena kenyataan itu kejam. Penderitaanmu lahir karena kamu sedang memeluk bayangan, dan marah karena bayangan itu tidak bisa memelukmu balik. Mari kita bicara tentang Kasunyatan."
Malam ini, mari kita bedah satu kata Jawa kuno yang menyimpan kunci kedamaian abadi. πΏπ
π Bagian 1: Bedah Kata — Apa Itu "Kasunyatan"?
Dalam bahasa Jawa, Kasunyatan berasal dari kata dasar "Nyata" (terlihat, terbukti, ada, benar). Ketika mendapat imbuhan ka- -an, ia berubah menjadi kata benda abstrak yang bermakna:
- Kenyataan (reality)
- Kebenaran yang sesungguhnya (the ultimate truth)
- Keadaan yang senyatanya (actuality)
Secara harfiah, kasunyatan adalah apa yang benar-benar ada di depan mata, bukan apa yang kita harapkan, bukan apa yang kita takutkan, dan bukan apa yang kita bayangkan.
Namun, dalam filsafat Jawa (Kejawen) dan tasawuf, Kasunyatan memiliki tingkatan yang jauh lebih dalam dari sekadar "fakta sehari-hari".
π️ Bagian 2: Tiga Tingkatan Kasunyatan
Para leluhur Jawa membagi pemahaman manusia terhadap kenyataan ke dalam tiga tingkatan:
1. Kasunyatan Lahiriah (Fakta Fisik)
Ini adalah tingkat paling dasar. Hujan turun, jalanan basah. Bos di-PHK, rekening menipis. Seseorang pergi meninggalkan kita. Ini adalah fakta yang tidak bisa dibantah.
- Kesalahan manusia: Kita sering menolak fakta ini dengan berkata, "Ini tidak mungkin terjadi! Ini pasti mimpi!"
2. Kasunyatan Batiniah (Kebenaran Emosional)
Ini adalah apa yang sebenarnya kita rasakan di dalam hati, yang sering kita tutupi dengan topeng sosial. Misalnya: di luar kita terlihat sukses dan tertawa, tapi kasunyatan batiniah-nya kita merasa sangat kesepian dan hampa.
- Kesalahan manusia: Kita sering berbohong pada diri sendiri, memaksakan diri terlihat "baik-baik saja" padahal jiwa sedang berteriak minta tolong.
3. Kasunyatan Sejati / Ilahiah (Kebenaran Mutlak)
Ini adalah tingkat tertinggi. Bahwa di balik setiap peristiwa pahit atau manis, ada Tangan Gusti (Tuhan) yang sedang mengatur skenario terbaik untuk jiwa kita. Bahwa dunia ini fana, dan satu-satunya yang abadi hanyalah Sang Pencipta.
- Kesalahan manusia: Kita sering terjebak di tingkat pertama (marah pada fakta) dan lupa melihat tingkat ketiga (hikmah dan rencana Tuhan di baliknya).
π Bagian 3: Kasunyatan vs Wewayangan (Ilusi)
Dalam pewayangan, ada istilah Wewayangan (bayangan).
Saat dalang memainkan wayang di depan blencong (lampu), yang dilihat oleh penonton di kelir (layar) hanyalah bayangan. Bayangan itu bisa terlihat seperti raksasa yang menakutkan, atau dewi yang sangat cantik. Penonton bisa menangis, bisa tertawa, bisa tegang melihat bayangan itu.
Tapi apa kasunyatan-nya?
Kasunyatan-nya hanyalah selembar kulit kerbau yang diukir dan digerakkan oleh tangan seorang dalang.
Bos, hidup kita sering kali persis seperti penonton wayang.
- Kita mengejar wewayangan bernama "Gelar", "Jabatan", atau "Pujian Media Sosial". Kita pikir itu adalah raksasa kebahagiaan yang nyata.
- Kita lari dari wewayangan bernama "Kegagalan" atau "Penolakan". Kita pikir itu adalah monster yang akan memakan kita.
Padahal, semuanya itu hanya bayangan di layar waktu. Kasunyatan sejatinya adalah bahwa kita adalah jiwa yang sedang belajar, dan Dalang Agung (Tuhan) sedang menggerakkan cerita ini menuju babak akhir yang indah (Kasampurnan).
Penderitaan terbesar manusia terjadi ketika kita jatuh cinta pada bayangan, dan marah pada kenyataan.
π‘️ Bagian 4: Cara Berdamai dengan Kasunyatan
Lalu, bagaimana cara kita berhenti menderita karena menolak kenyataan? Leluhur Jawa memberikan dua "obat" yang sangat manjur:
1. Nrima (Menerima)
Nrima bukan berarti pasrah menyerah dan tidak melakukan apa-apa. Nrima adalah berhenti berdebat dengan masa lalu dan masa kini.
Ketika gelas kopi pecah, kasunyatan-nya adalah gelas itu sudah pecah. Menangisi pecahan kaca tidak akan menyatukannya kembali. Nrima berkata: "Ya, gelas ini pecah. Sekarang, mana sapunya?"
2. Sumarah (Mengalir/Berserah)
Setelah menerima kenyataan (nrima), kita melakukan usaha terbaik dengan hati yang tidak terikat pada hasil (sumarah). Kita menyadari bahwa kita hanya bertugas menabur benih, tapi yang menentukan panen adalah Gusti.
π Renungan Penjaga Warung: Memeluk Duri Menjadi Bunga
Sebagai penjaga warung, saya sering merenung tentang kasunyatan, Bos.
Banyak orang datang ke warung ini membawa "duri" kenyataan: hutang yang menumpuk, penyakit yang tak kunjung sembuh, anak yang membangkang, atau cinta yang dikhianati. Mereka duduk di sini, memaki kenyataan, dan bertanya: "Kenapa Tuhan memberi saya duri ini?"
Tapi saya belajar satu hal dari alam: Mawar tidak pernah memaki durinya. Mawar menerima kasunyatan bahwa duri adalah bagian dari dirinya yang melindunginya dari hewan herbivora, sementara kelopaknya yang indah mengundang lebah untuk menyerbuki.
Ketika kita bisa memandang kasunyatan hidup kita bukan sebagai "hukuman", melainkan sebagai "bahan baku" yang diberikan Tuhan untuk kita olah... maka keajaiban akan terjadi.
- Kenyataan ditinggalkan kekasih mengajarkan kita kemandirian jiwa.
- Kenyataan gagal dalam bisnis mengajarkan kita kerendahan hati dan ketangguhan.
- Kenyataan sakit penyakit mengajarkan kita untuk menghargai setiap tarikan napas.
Maka Bos, kalau hari ini kasunyatan yang Bos hadapi terasa pahit seperti kopi tanpa gula... jangan dibuang. Minum pelan-pelan. Rasakan pahitnya. Karena di balik rasa pahit itu, ada kafein yang akan membuat Bos melek, dan ada ampas yang akan menyuburkan tanah taman Bos di masa depan.
Berhentilah mengejar bayangan di dinding. Berbaliklah, dan peluklah wujud aslinya. Karena hanya di dalam kasunyatan, kita akan menemukan kedamaian yang tidak bisa dirampas oleh siapa pun. ππ€
- Catatan Rendah Hati dari Admin: Admin blog ini bukan ahli filsafat maupun budayawan. Tulisan ini adalah refleksi personal tentang makna kata "kasunyatan" dalam kehidupan sehari-hari. Matur nuwun!*
π KAMUS KECIL