Kalau kita dengar kata "Clunthang", mungkin terdengar asing. Bukan bahasa Jawa sehari-hari untuk jualan di warung. Tapi di dalam tembok Keraton Yogyakarta dan Mangkunegaran Solo, Clunthang adalah nama yang sangat terkenal dan cantik.
Clunthang bukanlah kata sifat, tapi sebuah nama Gendhing atau lagu gamelan Jawa. Karena tradisi di keraton, sebuah tarian akan dinamai sesuai gendhing yang mengiringinya. Maka lahirlah nama Tari Golek Clunthang, yaitu Tari Golek yang diiringi oleh Gendhing Clunthang.
Lalu apa makna tarian ini? Kenapa disebut tarian gadis berhias pencari jati diri?
Sejarah Lahirnya Tari Golek Clunthang
Sejarahnya sangat menarik. Tari Golek awalnya terinspirasi dari Tari Ledek atau Tayub, tarian rakyat yang ada di pedesaan. Tarian rakyat yang dianggap kurang halus itu kemudian dibawa masuk ke dalam istana dan diperhalus gerakannya.
Tari Golek Clunthang termasuk tari tunggal putri pertama yang masuk ke istana Yogyakarta. Penciptanya adalah K.R.T. Sasmintadipura, seorang empu tari Yogyakarta yang menciptakan banyak tari Golek seperti Golek Ayun-Ayun, Golek Lambangsari, dan Golek Clunthang sendiri.
Pada awalnya, tari ini hanya ada di Yogyakarta. Namun karena adanya hubungan kekerabatan melalui pernikahan antara Gusti Kanjeng Ratu Timur (putri Sultan Hamengkubuwono VII) dengan Sri Mangkunegara VII, akhirnya Kadipaten Mangkunegaran di Surakarta juga memiliki versi Tari Golek Clunthang yang disesuaikan dengan gaya Mangkunegaran yang lebih lincah.
Makna Filosofis: Gadis yang Sedang Berhias dan Mencari Jati Diri
Inilah inti dari Tari Golek Clunthang. Tarian ini tidak menceritakan perang atau cinta-cintaan. Tarian ini menceritakan satu momen yang sangat intim:
Seorang gadis remaja yang baru menginjak usia akil baligh, sedang berhias diri di depan cermin.
Gerakannya menggambarkan: membetulkan sanggul, memakai bedak, merapikan kebaya, melihat kaca, tersenyum malu-malu. Gerakannya lembut, gemulai, penuh kehati-hatian.
Tapi makna di balik berhias itu sangat dalam dalam filosofi Jawa:
- Clunthang / Berhias = Pencerminan Pencarian Jati Diri. Gadis itu tidak hanya berdandan fisik, tapi sedang mencari "siapa aku". Masa transisi dari anak-anak menjadi wanita dewasa. Masa di mana dia mulai malu, mulai sadar akan kecantikan, dan mulai mencari perannya di dunia.
- Gerak yang Halus = Latihan Kehalusan Budi. Setiap gerakan Golek Clunthang mengajarkan kehalusan, kesabaran, dan kelembutan seorang wanita Jawa. Tidak boleh grusa-grusu.
- Tatapan ke Cermin = Introspeksi Diri. Bukan sekadar melihat cantik atau tidak, tapi melihat ke dalam diri sendiri. Apakah aku sudah pantas?
Karakteristik Geraknya yang Khas
Menurut penelitian dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dan Sanggar Ayodya Pala, Tari Golek Clunthang memiliki ciri khas:
- Memiliki 3 gugus gerak, 7 kalimat gerak, dan 15 frase gerak.
- Desain geraknya sangat lengkap: ada desain lurus, lengkung, rendah, tinggi, simetris, asimetris.
- Busana yang dipakai adalah busana khas Golek: kebaya, kain batik, dan sanggul Jawa dengan aksesoris.
- Iringannya wajib Gendhing Clunthang yang dimainkan dengan gamelan pelog.
Kenapa Tarian Seindah Ini Hampir Punah?
Sama seperti profesi Mranggi yang kemarin kita bahas, Tari Golek Clunthang juga terancam punah. Penyebabnya:
- Tidak Populer di Panggung Modern: Anak muda lebih suka tari kontemporer atau K-Pop dance daripada tari klasik yang gerakannya lambat dan butuh penghayatan.
- Butuh Waktu Lama untuk Belajar: Untuk bisa membawakan Golek Clunthang dengan benar, butuh latihan bertahun-tahun di sanggar, tidak bisa instan.
- Hanya Ada di Keraton dan Sanggar Tertentu: Tidak diajarkan di sekolah umum. Hanya ada di ISI Yogyakarta, ISI Surakarta, dan beberapa sanggar seperti Sanggar Ayodya Pala.
- Kostum dan Gamelan Mahal: Untuk pentas satu kali butuh biaya besar untuk sewa gamelan dan kostum lengkap.
Penutup
Tari Golek Clunthang bukan sekadar tarian untuk ditonton. Ia adalah cermin masa remaja kita semua. Setiap gadis pasti pernah mengalami fase Clunthang: fase di depan kaca, bingung antara masih ingin main tapi juga ingin terlihat dewasa dan cantik. Fase mencari jati diri.
Di zaman sekarang di mana filter Instagram dan TikTok membuat standar cantik jadi instan, makna Clunthang justru menjadi sangat relevan. Ia mengajarkan bahwa berhias yang sejati bukan hanya memoles wajah, tapi memoles budi dan hati. Cantik luar harus seimbang dengan cantik dalam. Itulah pencarian jati diri yang sebenarnya.
Jika tarian seindah ini punah, kita tidak hanya kehilangan gerakan tari, tapi kita kehilangan sebuah filosofi tentang bagaimana menjadi wanita Jawa yang halus, sabar, dan mengenal dirinya sendiri. Semoga sanggar-sanggar tari tetap setia menjaga Clunthang tetap hidup.
Renungan Untuk Kita Orang Tua yang Punya Anak Gadis
Kita yang punya anak gadis yang mulai SMP, pasti sering lihat anak kita lama di depan kaca. Gonta-ganti baju, coba-coba lipstik bunda. Kadang kita sebel, "Lamanya, dandan terus!"
Padahal itu adalah fase Clunthang-nya dia. Dia sedang mencari jati dirinya. Dia sedang bertanya: "Apakah aku cantik? Apakah aku sudah dewasa?" Tugas kita bukan memarahi, tapi membimbing. Bilang: "Cantik nak, tapi cantiknya ditambah dengan sopan santun ya. Baju bagus kalau ditambah senyum dan bahasa yang halus, jadi makin cantik."
Seperti Mranggi yang membuatkan warangka yang indah untuk keris, kita sebagai orang tua juga sedang membuatkan "warangka" untuk anak gadis kita: warangka berupa akhlak dan budi pekerti yang indah untuk membungkus kecantikannya.
Disclaimer
Artikel ini ditulis untuk tujuan informasi dan edukasi budaya umum, BUKAN sebagai rujukan akademik tari yang baku. Admin blog ini bukan ahli tari, bukan dosen ISI, hanya pemerhati budaya yang merangkum dari sumber terpercaya seperti repository ISI Yogyakarta, ISI Surakarta, dan jurnal tari UNJ. Untuk pembelajaran tari yang benar dan gerakan yang pakem, silakan belajar langsung di sanggar tari klasik atau di Institut Seni Indonesia terdekat.
Kamus Kecil
1. Golek: Jenis tari klasik Jawa gaya putri yang gerakannya lembut menggambarkan gadis remaja.
2. Clunthang / Klunthang: Nama sebuah gendhing (lagu gamelan) Jawa yang menjadi iringan tari, yang maknanya adalah gadis yang sedang berhias diri.
3. Gendhing: Komposisi musik gamelan Jawa yang mengiringi tarian atau pertunjukan wayang.
4. Golek Clunthang: Tari Golek yang diiringi Gendhing Clunthang, menceritakan gadis remaja yang berhias dan mencari jati diri.
5. Akil Baligh: Masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa.
6. Mangkunegaran: Kadipaten atau kerajaan kecil di Surakarta yang juga menjadi pusat kebudayaan Jawa selain Keraton Solo dan Jogja.