Curahan Hati Seorang Penulis

Arti Waranggana: Perempuan di Balik Gamelan yang Sering Salah Kita Pahami

Malam itu warung sudah sepi. Saya menyalakan radio tua di sudut meja, kebetulan ada siaran rekaman wayang kulit. Di sela bunyi gong dan saron, terdengar suara perempuan yang bening, meliuk-liuk, seperti menahan sesuatu yang berat tapi tetap terdengar indah.
Penyiar menyebutnya dengan satu kata yang dulu jarang saya dengar: waranggana.
Ilustrasi cat air: seorang waranggana berkebaya duduk anggun di samping perangkat gamelan, menyanyi dengan mata terpejam, cahaya lampu hangat, suasana khidmat dan penuh hormat.
"Berdiri sendiri, tapi menyanyi untuk semua. 🤍"
Saya yang awam ini selama ini cuma tahu sebutan sinden. Ternyata, kata "waranggana" justru sebutan yang lebih tua, lebih halus, dan kalau kita mau merenung sebentar — menyimpan penghormatan yang dalam sekali.

📖 Jadi, Apa Itu Waranggana?

Kalau kita buka kamus, artinya sederhana: waranggana adalah penyanyi wanita dalam seni karawitan atau wayang; pesinden.
Dalam pagelaran wayang, waranggana bertugas menyanyikan gendhing-gendhing, membantu dhalang menghidupkan suasana — entah saat adegan sedih, ramai, atau romantis. Suaranya tidak bersaing dengan gamelan; ia merangkul gamelan, membuat bunyi perunggu itu terasa punya jiwa.
Dan satu hal yang membuat saya tertegun: ternyata "waranggana" adalah sebutan asli yang sudah ada jauh sebelum kata "sinden" atau "pasindhèn" populer seperti sekarang. Artinya, dulu orang Jawa punya kata khusus yang lebih terhormat untuk menyebut perempuan penyanyi ini.

🌸 Nama yang Indah: "Perempuan yang Berdiri Sendiri"

Ada pemaknaan yang sering dikutip orang tentang asal kata ini:
  • Wara — perempuan, atau sesuatu yang terpilih/mulia.
  • Anggana — sendiri, tunggal.
Digabungkan, waranggana bisa dimaknai sebagai perempuan yang berdiri sendiri. Bahkan ada kajian yang menyebut gabungan kata ini bermakna "perempuan yang baik".
Saya merenungkan makna "berdiri sendiri" itu lama-lama.
Coba bayangkan: di tengah panggung yang ramai oleh puluhan penabuh gamelan laki-laki, ada satu perempuan yang duduk sendiri dengan kebaya dan mikrofornya. Dia tidak diiringi oleh siapa pun — justru dialah yang mengisi jiwa iringan itu. Berdiri sendiri, tapi tidak kesepian. Sendiri, tapi menjadi pusat.
Bukankah itu gambaran banyak perempuan di sekitar kita? Ibu-ibu yang sendirian menjaga rumah dan anak saat suami merantau. Perempuan-perempuan yang sendirian menopang ekonomi keluarganya. Mereka "waranggana" dalam kehidupan nyata: berdiri sendiri, tapi menyanyi untuk semua orang yang mereka cintai.

🎭 Sisi Lain: Waranggana dalam Tayub dan Stigma yang Tidak Adil

Tapi sejarah tidak selalu manis. Dalam kesenian tayub, waranggana adalah perempuan yang menyanyi sekaligus menari, menghibur para tamu yang ikut menari. Di beberapa tempat mereka juga disebut ledhek.
Dan di sinilah bagian yang membuat saya sedih: karena tampil menghibur dan menari, para waranggana tayub sering diberi cap yang tidak-tidak — dianggap perempuan "penggoda", dipandang rendah, bahkan dilecehkan. Stigma itu menempel bertahun-tahun, turun-temurun, padahal banyak dari mereka adalah tulang punggung keluarga dan penjaga tradisi yang menjaga kesenian Jawa tetap hidup sampai hari ini.
Saya jadi malu sendiri. Betapa mudahnya kita memberi label pada orang yang tidak kita kenal hidupnya. Kita melihat pakaiannya, pekerjaannya, atau panggungnya — lalu kita memutuskan siapa dia. Padahal kita tidak pernah melihat perjuangannya bangun pagi, menyuapi anak, atau menabung untuk sekolah cucunya.
Para leluhur sebenarnya sudah memberi contoh: mereka menyebut perempuan penyanyi ini dengan kata yang mulia — waranggana, perempuan terpilih yang berdiri sendiri. Bukan dengan label-label yang merendahkan.

🤍 Yang Bisa Kita Pelajari

Dari satu kata ini, saya belajar tiga hal sederhana:
1. Jangan cepat memberi label. Orang yang kita anggap "rendah" bisa jadi sedang memikul beban yang tidak sanggup kita pikul sehari pun.
2. Suara yang lembut bukan berarti lemah. Waranggana tidak berteriak untuk didengar. Ia cukup menyanyi, dan satu panggung mendengarkannya. Kadang kelembutan justru kekuatan yang paling tahan lama.
3. Berdiri sendiri bukan berarti kesepian. Banyak perempuan (dan siapa pun) yang harus berdiri sendiri dalam hidupnya. Tapi seperti waranggana, mereka justru menjadi penopang bagi banyak orang di sekitarnya.

Penutup

Lain kali kalau Bos mendengar suara sinden di radio, di hajatan, atau di rekaman wayang, coba sebut dia dengan nama aslinya sekali saja: waranggana.
Sebutan yang lebih tua, lebih halus, dan lebih menghormati. Karena setiap perempuan yang menyanyi untuk menghidupi orang-orang yang ia cintai — pantas mendapatkan sebutan yang mulia. 🤍

🙏 Catatan Kecil: Penulis bukanlah ahli karawitan, bukan budayawan, dan bukan peneliti seni. Hanya seorang penjaga toko yang suka mendengarkan wayang di radio dan mencoba memahami kata-kata lama dengan caranya sendiri. Jika para sesepuh, seniman, atau teman-teman yang lebih paham menemukan kekeliruan, mohon sudi mengoreksi di kolom komentar — saya akan belajar dengan senang hati.

📖 KAMUS KECIL

  • Waranggana — Penyanyi wanita dalam seni karawitan atau wayang; sebutan halus dan asli untuk pesinden.
  • Pasindhèn / Sinden — Sebutan yang lebih populer sekarang untuk penyanyi wanita pengiring gamelan.
  • Gendhing — Lagu atau komposisi dalam musik gamelan Jawa.
  • Dhalang — Orang yang memimpin pertunjukan wayang.
  • Tayub — Kesenian tari pergaulan Jawa di mana waranggana menari dan menyanyi bersama para tamu.
  • Ledhek — Sebutan lain untuk penari/penyanyi wanita dalam tayub di beberapa daerah.
  • Pangrawit — Para penabuh atau pemain gamelan.
Share: