Siapa yang
tak kenal dengan peribahasa atau tembang sederhana yang sering dilantunkan
orang tua kita sejak dulu: "Suwe ora jamu, suwe ora jamu. Jamu pethuk
sari, suwe ora ketemu." Terdengar sederhana, terasa biasa saja di telinga.
Namun jika kita merenungkan maknanya perlahan-lahan, di dalamnya tersimpan
kebijaksanaan leluhur yang begitu dalam dan menyentuh hati. 🤎
📝 Arti Secara Sederhana
Mari kita
pahami maknanya satu per satu:
"Suwe
ora jamu" artinya: Sudah lama tidak dijamu, sudah lama tidak dikunjungi,
sudah lama tidak disapa dan tidak dijaga.
"Suwe
ora ketemu" artinya: Maka lama-lama pun tidak bertemu, lama-lama pun
menjadi jauh, lama-lama pun hilanglah kebiasaan dan kasih sayangnya.
"Jamu
pethuk sari" artinya: Namun jika sesekali dijamu, disapa, dijaga, dan
dipertemukan — maka rasanya menjadi seindah sari pati jamu. Manis, segar, dan
menyehatkan hati.
Secara
singkat maknanya begini: hubungan persahabatan, kekeluargaan, maupun kasih
sayang itu — jika lama tidak dijaga dan tidak disapa, lama-lama pun bisa
menjadi jauh dan luntur. Namun jika sesekali dikunjungi dan disapa, kasih
sayang itu akan tumbuh kembali dan terasa manis sekali di hati.
💛 Hikmah yang Terkandung di Dalamnya
🌿 Hubungan Itu Perlu Dijaga, Tidak
Bisa Dibiarkan Saja
Peribahasa
ini mengingatkan kita satu hal yang sering kali kita lupa: hubungan
persaudaraan, pertemanan, dan kasih sayang itu — sama seperti tanaman atau
seperti tubuh kita — perlu dirawat dan dijaga. Jika lama tidak diberi air,
lama-lama layu. Jika lama tidak dijamu, lama-lama pun menjadi jauh.
Banyak orang
berpikir: "Kita sudah lama bersahabat, tak perlu sering menyapa. Pasti
tak akan ke mana-mana." Padahal tidak demikian. Hati manusia itu
lembut dan sensitif. Jika lama tidak disapa, lama tidak dikunjungi, lama tidak
bertegur sapa — lama-lama jarak pun tumbuh di antara hati. Bukan karena benci,
bukan pula karena marah. Melainkan karena sudah terbiasa saling jauh.
🌸 Bertemu Sekali Saja Sudah Cukup
Menyegarkan
Namun
peribahasa ini juga mengandung harapan yang indah. Disebutkan: "Jamu
pethuk sari." Artinya — meski lama tidak bertemu, namun jika sesekali
saja kita menyapa, mengunjungi, atau sekadar menanyakan kabar — maka hati yang
sempat jauh itu akan kembali segar. Manisnya kasih sayang itu kembali terasa,
segarnya persaudaraan itu kembali terasa. Seperti meminum jamu yang sari
patinya segar menyehatkan tubuh.
Tidak perlu
setiap hari bertemu. Tidak perlu setiap jam bertegur sapa. Cukup sesekali saja.
Sekadar menanyakan kabar: "Bagaimana kabarmu, saudaraku?"
Sekadar menyapa: "Aku masih ingat padamu." Sekadar berkunjung
sebentar. Itu saja sudah cukup menjadi "jamu" yang menyegarkan hati.
Itu saja sudah cukup menjaga agar kasih sayang tidak luntur dan jarak tidak
tumbuh di antara kita.
🤝 Jangan Menunggu Hingga Hilang Baru
Menyadari
Leluhur kita
mengingatkan dengan lembut: jangan menunggu hingga lama sekali baru menyapa.
Jangan menunggu hingga jauh baru mencari. Karena jika sudah terlalu lama tidak
bertemu, bisa jadi saat ingin bertemu kembali, kesempatan itu sudah tiada.
"Suwe
ora ketemu" — dua kalimat ini mengandung peringatan yang halus. Bahwa
kesempatan untuk bertemu dan bersapa itu tidak selamanya ada. Maka selagi masih
ada waktu, selagi masih ada kesempatan — sampaikanlah salammu, tanyakanlah
kabarnya, kunjungilah sesekali. Agar kasih sayang tetap terjaga, agar jarak
tidak tumbuh di antara hati.
🤎 Renungan Penjaga Warung
Saya yang
tiap hari duduk di depan warung, melihat orang-orang lalu-lalang, sering
teringat pada peribahasa ini. Banyak sahabat yang dulu akrab, kini lama tak
berjumpa. Banyak kerabat yang dulu sering bertemu, kini lama tak bersapa. Bukan
karena ada masalah, bukan karena ada pertengkaran. Hanya saja — lama tidak
dijamu, lama tidak disapa. Maka lama-lama pun menjadi jauh.
Padahal
tidak sulit untuk menjaganya. Tidak perlu hadiah yang mahal. Tidak perlu
kunjungan yang lama. Cukup satu sapaan tulus. Cukup satu pertanyaan lembut: "Bagaimana
kabarmu?" Cukup satu kunjungan sebentar saja. Itu saja sudah menjadi
"jamu" yang menyegarkan hati. Itu saja sudah menjaga agar kasih
sayang tetap tumbuh dan tidak luntur dimakan waktu.
Maka
pelajaran yang bisa kita ambil hari ini sederhana saja: jangan biarkan terlalu
lama tanpa menyapa. Karena sesekali saja menyapa, sudah jauh lebih baik
daripada menunggu lama hingga akhirnya lupa. 🤍
⚠️ Catatan Penafian
Tulisan ini
lahir dari pemahaman sederhana saya terhadap peribahasa Jawa yang sudah
turun-temurun diwariskan oleh leluhur kita. Makna dan penjelasan di atas adalah
pemahaman sederhana agar mudah dipahami oleh kita semua. Jika ada perbedaan
penjelasan dari para ahli bahasa atau budayawan, mohon dijadikan pelengkap saja
ya.
📖 Kata-Kata yang Perlu Diketahui
Tabel
|
Istilah |
Arti
Singkat |
|
Suwe |
Sudah
lama, waktu yang cukup panjang berlalu |
|
Ora |
Tidak,
bukan |
|
Jamu |
Di sini
bukan berarti minuman jamu semata, melainkan: dikunjungi, disapa, dijamu, dan
diperhatikan |
|
Pethuk |
Bertemu,
berjumpa, datang kembali |
|
Sari |
Sari pati,
inti yang paling baik, manis, dan menyegarkan |
|
Suwe Ora
Ketemu |
Jika lama
tidak dijaga, lama-lama pun akan menjadi jauh dan sulit untuk dipertemukan
kembali |