Kalau kamu pernah lihat gamelan Jawa di pendopo, di hajatan, atau di YouTube, pasti pernah lihat gong besar yang diameternya 1 meter, digantung di kayu yang berdiri kokoh, diukir naga, diukir bunga.
Banyak yang tidak tahu namanya, bosku. Dikiranya cuma tiang kayu biasa. Padahal tukang gamelan di Gresik menyebutnya dengan nama sakral: Gayor.
Gayor Adalah Rumahnya Gong
Gayor atau gawangan adalah tempat untuk menggantung gong pada gamelan. Bentuknya seperti gerbang kayu, ada dua tiang berdiri, di atas ada palang melintang, dan gong digantung di tengah pakai tali atau kawat.
Kalau di gamelan Jawa, gayor itu ada untuk:
- Gong Ageng: Gong paling besar, suara paling dalam, diameter 80-100 cm, berat bisa 30 kilo, digantung di gayor paling besar, ukirannya paling mewah.
- Gong Suwukan: Gong agak kecil dari gong ageng.
- Kempul: Gong kecil-kecil yang digantung berderet, gayornya panjang.
Tanpa gayor, gong tidak bisa bunyi, bosku. Gong harus digantung, tidak boleh ditaruh di lantai. Kalau ditaruh di lantai, suaranya mati. Harus digantung di gayor biar getarannya bebas, biar nangisnya sampai ke hati.
Bahan Gayor Tidak Sembarangan
Di Gresik, aku pernah lihat pengrajin gamelan bikin gayor. Kayunya tidak sembarang kayu:
1. Kayu Jati: Paling bagus, kuat, tidak dimakan rayap, tahan puluhan tahun menahan gong 30 kilo. Gayor jati biasanya untuk kraton.
2. Kayu Nangka: Seratnya bagus untuk diukir, warna kuning keemasan, biasanya untuk gamelan desa.
3. Kayu Sono Keling: Kayu hitam, mewah, untuk gamelan pesanan sultan.
Ukirannya juga tidak asal ukir. Gayor kraton Solo dan Jogja diukir motif naga, lung-lungan (sulur), dan gunungan. Setiap ukiran ada maknanya, bukan hiasan.
Filosofi Gayor yang Bikin Merinding
Tukang gamelan tua di Gresik pernah bilang ke aku sambil ngopi di warungku:
"Cak, gayor itu seperti bapak yang menggendong anaknya. Gong itu anaknya. Kalau gayornya rapuh, gongnya jatuh, suaranya hilang. Kalau gayornya kokoh, gongnya bisa nangis seumur hidup."
Merdinding, bosku.
Gayor itu filosofi tanggung jawab. Dia berdiri diam, tidak bunyi, tidak dipukul, tapi tanpa dia, gamelan tidak jadi. Dia penyangga yang tidak terlihat, tapi paling penting.
Seperti bapak di rumah, seperti penjaga warung yang duduk di kursi plastik biru, tidak terlihat hebat, tapi kalau tidak buka warung, kampung tidak bisa beli gula.
Gong yang dipukul, yang terkenal, yang suaranya menggelegar. Tapi gayor yang menahan, yang diam, yang kokoh, tidak dapat tepuk tangan.
Perbedaan Gayor dan Rancak
Banyak yang bingung, gayor sama rancak bedanya apa?
- Gayor / Gawangan: Untuk gantung gong besar yang digantung vertikal, berdiri sendiri, satu gong satu gayor (untuk gong ageng).
- Rancak / Kakanco: Untuk menaruh gong-gong kecil yang tidur (bonang, kenong, kethuk), bentuknya seperti meja kayu panjang, gong ditaruh di atasnya.
Jadi kalau gongnya digantung, rumahnya namanya gayor. Kalau gongnya ditidurkan, rumahnya namanya rancak.
Kenapa Sekarang Gayor Jarang Dilihat Anak Muda?
Karena gamelan sekarang banyak yang pakai stand besi, bukan kayu ukir lagi. Lebih murah, lebih praktis. Tapi rasanya hilang.
Gayor kayu jati ukir naga itu ada jiwanya, bosku. Kalau besi, dingin, tidak ada cerita. Kalau kayu jati, ada cerita 30 tahun menahan gong, ada bekas pukulan, ada minyak kayu yang harum.
Di Gresik, masih ada satu pendopo yang gayornya umur 50 tahun, kayunya masih kokoh, gongnya masih nangis tiap malam Jumat Kliwon.
Penutup dari Warung Gresik - Pelajaran dari Gayor
Aku tulis artikel ini jam 5 sore, warung sepi, aku ingat gayor.
Hidup itu seperti gamelan, bosku. Ada yang jadi gong, dipukul, suaranya keras, semua orang dengar, terkenal. Ada yang jadi gayor, diam, berdiri, menahan beban, tidak dipuji, tapi tanpa dia, gong jatuh.
Jangan sedih kalau kamu hari ini jadi gayor. Jadi bapak yang diam menahan beban keluarga, jadi ibu yang diam menahan tangis, jadi penjaga warung yang diam menunggu pembeli.
Gayor tidak bunyi, tapi tanpa gayor, gamelan tidak berbunyi.
Kamu yang hari ini merasa tidak terlihat, ingat gayor. Kamu penting, meski tidak dipukul, meski tidak terkenal.
Besok kalau kamu lihat gamelan, jangan cuma lihat gongnya. Lihat gayornya. Kayu berdiri yang menahan tangis gong seberat 30 kilo seumur hidup tanpa mengeluh.
Disclaimer Budaya
Artikel ini adalah penjelasan tentang gayor yaitu cantolan atau gawangan kayu untuk menggantung gong pada gamelan Jawa berdasarkan literatur gamelan (gong diletakkan menggantung pada gawangan dari kayu yang disebut gayor) dan cerita pengrajin gamelan di Gresik. Bentuk dan bahan gayor bisa berbeda tiap daerah (Solo, Jogja, Jawa Timuran, Bali, Sunda). Penulis adalah penjaga warung kelontong di Gresik yang cinta gamelan, bukan pengrajin gamelan atau ahli karawitan. Untuk info lebih detail tentang gamelan, silakan datang ke pendopo atau sanggar gamelan terdekat. Mari lestarikan gamelan.
Kamus Kecil
1. Gayor / Gawangan: Cantolan kayu berbentuk gerbang untuk menggantung gong gamelan.
2. Gong Ageng: Gong paling besar di gamelan Jawa, suara paling dalam.
3. Kempul: Gong kecil yang digantung berderet.
4. Rancak / Kakanco: Tempat menaruh gong kecil yang ditidurkan seperti bonang dan kenong.
5. Pendopo: Bangunan Jawa terbuka tempat gamelan dimainkan.