Curahan Hati Seorang Penulis

Serat Kalatidha: "Zaman Edan" Ranggawarsito, dan Kita yang Tenggelam dalam Notifikasi

Pernahkah kamu membuka hp hanya untuk mengecek jam, tapi tiba-tiba sadar sudah setengah jam berlalu dengan jempol yang terus scroll tanpa arah? Kepala terasa berat, mata lelah, dan ada rasa hampa yang aneh di dada.
Ilustrasi cat air surealis yang tenang: sebuah smartphone modern memancarkan cahaya biru yang hiruk-pikuk, di sebelahnya terdapat kitab/lontar Jawa kuno yang memancarkan cahaya kuning hangat yang menenangkan, di atas meja kayu dengan secangkir teh.
"Seberuntung-beruntungnya yang lupa, lebih beruntung yang eling lan waspada. 🌿"
Suatu malam, saat merasa kewalahan oleh derasnya informasi dan tuntutan dunia maya, aku tidak sengaja membaca kembali bait-bait dari Serat Kalatidha. Ini adalah karya sastra Jawa yang ditulis oleh Pujangga Terakhir Keraton Surakarta, R.Ng. Ranggawarsita, pada tahun 1860-an.
Dan aku merinding. Karena ternyata, apa yang kita alami hari ini di era digital, sudah diramalkan lebih dari satu setengah abad yang lalu. Beliau menyebutnya: Zaman Edan.

"Amenangi Zaman Edan, Ewuhaya Ing Pambudi"

Mari kita bedah bait yang paling melegenda ini:
Amenangi zaman edan, ewuhaya ing pambudi. Milu edan nora tahan, yen tan milu anglakoni, boya kaduman melik, kaliren wekasanipun.
Terjemahan kasarnya: (Sungguh sulit hidup di zaman edan. Kalau ikut gila, batin tidak kuat. Kalau tidak ikut gila, tidak kebagian apa-apa, akhirnya kelaparan).
Bukankah ini potret persis dari FOMO (Fear of Missing Out) dan budaya hustle kita hari ini?
Kalau kita ikut "edan"-nya arus media sosial — ikut pamer, ikut berkomentar pedas, ikut berlomba produktivitas palsu — mental kita yang hancur. (Aku pernah menulis rasa lelahnya di artikel Hari Ini Aku Tidak Produktif, dan Tidak Apa-Apa).
Tapi kalau kita logout, diam saja, kita takut dibilang ketinggalan zaman, takut ketinggalan tren, takut "kelaparan" secara sosial. Dulu, di era 17-an Zaman HP Jadul, hp hanya berbunyi saat ada kabar penting. Sekarang, saku kita adalah pasar malam yang tidak pernah tutup. Kita terjebak di tengah-tengahnya.

Jalan Keluar: Eling lan Waspada

Lalu, apakah Ranggawarsito membiarkan kita putus asa? Tidak. Beliau menutup tembang itu dengan sebuah "kunci" yang sangat jenius:
Ndilalah karsa Allah, begja-begjane kang lali, luwih begja kang eling lawan waspada.
(Atas kehendak Allah, seberuntung-beruntungnya orang yang lupa/lalai, masih jauh lebih beruntung orang yang Eling dan Waspada).
Dalam kacamata psikologi modern, eling adalah mindfulness (kesadaran penuh pada saat ini), dan waspada adalah vigilance (kewaspadaan pada lingkungan).
Namun, jika kita tarik ke dalam kacamata spiritual yang lebih dalam, Eling adalah Dzikir (ingat kepada Sang Pencipta), dan Waspada adalah Muraqabah (merasa selalu diawasi oleh Allah). Ini adalah jangkar yang membuat batin kita tidak ikut terseret arus "kegilaan" algoritma dan dunia.

Merawat Kewarasan di Tengah Badai

Bagaimana cara mempraktikkan Eling lan Waspada di abad 21?
  1. Waspada pada Layar: Sadari kapan layar mulai meracuni tidurmu. Cahaya biru dan hutang tidur adalah tanda fisik bahwa kita sedang "lali" (lupa) pada kebutuhan tubuh kita sendiri.
  2. Eling pada yang Nyata: Letakkan hp. Tatap mata anakmu, dengarkan suara pasanganmu, atau rasakan angin sore. Algoritma tidak bisa menggantikan hangatnya kehadiran fisik.
  3. Waspada pada Hati: Sebelum mengetik komentar yang pedas, tanyakan pada hati: apakah ini membawa kebaikan, atau hanya menuruti ego?
Zaman edan mungkin tidak akan pernah berakhir. Notifikasi akan terus berdering. Tapi Ranggawarsito sudah berpesan: kita tidak harus ikut gila. Kita cukup duduk tenang, menjaga kewarasan, dan mengingat Dia yang menggenggam zaman.
Giliranmu: di tengah "zaman edan" hari ini, apa satu hal sederhana yang biasa kamu lakukan supaya tetap eling dan waras? Mari berbagi di kolom komentar. 🌿
Share:

Translate

Postingan Populer

Arsip Blog

Label

Kamus Jawa (416) Kesehatan (262) Sejarah (6)