Curahan Hati Seorang Penulis

Jaman Kalabendu Menurut Jangka Ranggawarsita: Benarkah Kita Sedang Mengalaminya? (Ciri-Ciri & Jalan Menuju Kalasuba)

Malam ini, warung saya kedatangan Mbah Karso, sesepuh kampung yang jarang keluar malam. Beliau memesan wedang jahe, lalu sambil menatap hujan, beliau bergumam: "Mas, aku maca berita ing HP anakku. Kok yo podho karo sing ditulis Ranggawarsita biyen. Jaman saiki... wis kalabendu ta, ya?"
Saya tidak langsung menjawab. Saya tuangkan wedang jahanya pelan-pelan, karena pertanyaan Mbah Karso bukan pertanyaan ringan. Itu pertanyaan yang sudah berumur hampir dua abad.
Ilustrasi seorang pujangga Jawa kuno sedang menulis di atas serat dengan cahaya lampu minyak yang temaram, di latar belakang terlihat siluet zaman yang kacau perlahan berubah menjadi fajar yang tenang, menggambarkan peralihan dari Kalabendu menuju Kalasuba.
"Para pujangga tidak menulis ramalan untuk menakuti. Mereka menulis cermin, agar kita berani melihat diri sendiri. 🕯️"
Bos, di kalangan Bolo Jangka Jawa, nama Ranggawarsita bukan nama sembarangan. Beliau adalah pujangga besar Kasunanan Surakarta yang dijuluki pujangga panutup — dan "jangka" (gambaran zaman) yang beliau tulis dalam Serat Kalatidha dan Serat Sabdajati terasa semakin relevan setiap tahunnya.
Mari kita bedah dengan kepala dingin: apa itu Kalabendu, apa ciri-cirinya, dan — yang paling penting — ke mana jalan keluarnya?

📜 Siapa Ranggawarsita dan Apa Itu "Jangka"?

Ranggawarsita (1802–1873) adalah pujangga terakhir terbesar tanah Jawa. Karya-karyanya bukan sekadar puisi, tapi pembacaan atas arah zaman — dalam tradisi Jawa disebut jangka atau titen.
Dalam pembacaan beliau, zaman berputar dalam tiga babak besar:
  1. Jaman Kalatidha — zaman yang tidha-tidha: serba tidak pasti, kabur, orang bingung membedakan yang benar dan salah.
  2. Jaman Kalabendu — zaman bendu (murka): runtuhnya moral, hukum bisa dibeli, yang salah dimenangkan, yang benar dikalahkan.
  3. Jaman Kalasuba — zaman suba (baik): keadilan dan kemakmuran kembali, pemimpin berbudi luhur, tanah Jawa tenteram.
Perhatikan urutannya, Bos: gelap dulu, baru terang. Para leluhur tidak menjanjikan zaman yang mudah — mereka menjanjikan bahwa setiap kegelapan punya ujung.

🌑 Ciri-Ciri Jaman Kalabendu (Coba Bos Cocokkan Sendiri)

Dalam serat-seratnya, Ranggawarsita menggambarkan tanda-tanda Kalabendu dengan sangat rinci. Saya tidak akan menyebut nama siapa pun — Bos cukup membaca dan merasakan sendiri:
  • Pemimpin dan pejabat banyak yang dusta. Kata-kata tidak lagi bisa dipegang, janji tinggal janji.
  • Hukum tajam ke bawah, tumpul ke atas. Yang benar bisa disalahkan, yang salah bisa membeli kebebasan.
  • Orang berlomba mengejar harta dan jabatan dengan cara apa pun, tanpa lagi mengenal malu.
  • Agama dan ilmu dijadikan dagangan. Yang alim dijual, yang pintar dipakai menipu.
  • Anak tidak lagi menghormati orang tua, murid meremehkan guru, dan orang tua tidak lagi memberi teladan.
  • Bencana dan pagebluk datang silih berganti, seolah alam ikut murka.
  • Yang jujur disingkirkan, yang pandai menjilat dinaikkan.
Mbah Karso menutup cerita beliau malam itu dengan kalimat yang menampar: "Sing nggumunake iku dudu zamane, Mas. Sing nggumunake iku, kok yo akeh wong sing betah urip ing jaman ngene." (Yang mengherankan bukan zamannya. Yang mengherankan adalah, kok ya banyak orang yang betah hidup di zaman seperti ini.)

🌀 "Amenangi Zaman Edan": Pupuh yang Paling Terkenal

Dari Serat Kalatidha, ada satu pupuh yang paling sering dikutip hingga hari ini:
Amenangi zaman edan, Ewuhaya ing pambudi, Milu edan nora tahan, Yen tan milu anglakoni, Boya keduman melik, Kaliren wekasanipun, Ndhilallah karsa Allah, Bagja bagyaning wong lali, Lali ing panembehe saking edan.
Terjemahan bebasnya: Menyaksikan zaman edan, serba sulit memakai akal budi. Ikut edan, hati tidak tahan. Tapi jika tidak ikut-ikutan, tidak kebagian apa-apa, akhirnya kelaparan. Namun atas kehendak Allah, beruntunglah orang-orang yang "lali" — yang lupa pada edannya zaman karena tenggelam dalam sembahnya (ibadahnya).
Bos, perhatikan kejeniusan Ranggawarsita di sini. Beliau tidak menyuruh kita melawan zaman edan dengan kekerasan. Beliau juga tidak menyuruh kita ikut edan. Beliau memberi jalan ketiga: menjadi "wong lali" — orang yang begitu tenggelam dalam kebaikan dan kedekatannya dengan Gusti, sehingga "edan"-nya zaman tidak lagi menyentuh hatinya.
Itu bukan pelarian. Itu benteng.

🌅 Jalan Menuju Kalasuba: Eling lan Waspada

Lalu, kapan Kalasuba datang? Jangka tidak pernah memberi tanggal. Karena dalam pandangan Jawa, zaman tidak berubah karena kalender — zaman berubah karena manusia.
Kalasuba datang ketika jumlah orang yang eling lan waspada (sadar dan mawas diri) sudah mengalahkan jumlah orang yang larut dalam edan. Maka tugas kita bukan menebak-nebak tanggal, tapi menjadi bagian dari fajar itu sendiri.
Cara orang Jawa bertahan di Kalabendu, sederhana tapi berat:
  1. Eling — ingat selalu kepada Gusti dan kepada asal-usul kita.
  2. Waspada — tidak mudah tertipu berita, janji manis, dan penampilan.
  3. Nrimo ing pandum — menerima bagian kita tanpa iri pada bagian orang lain.
  4. Memayu hayuning bawana — ikut menjaga keindahan dunia, sekecil apa pun bagian kita.
  5. Menjaga omah lan anak-putu — karena keluarga adalah benteng terakhir sebelum benteng negeri.

💭 Renungan Penjaga Warung: Jangan-Jangan, Kitalah "Zaman" Itu

Sebagai penjaga warung, saya punya kebiasaan aneh: setiap ada pelanggan yang mengeluh "jaman saiki edan", saya diam-diam menghitung — berapa banyak dari keluhan itu yang sebenarnya cermin.
Karena begini, Bos. Zaman itu bukan benda yang jatuh dari langit. Zaman adalah kumpulan dari pilihan-pilihan kecil kita semua.
Zaman menjadi "edan" ketika saya menjual gorengan dengan minyak jelantah demi untung seribu rupiah. Zaman menjadi "bendu" ketika kita menyebarkan kabar yang belum jelas kebenarannya di grup keluarga. Zaman menjadi gelap ketika kita mengajar anak kita bahwa "jujur itu bodoh".
Dan sebaliknya — zaman menjadi Kalasuba ketika hal-hal kecil yang benar kita lakukan tanpa henti: dagang yang jujur, bicara yang benar, mendidik anak dengan teladan, dan mendoakan negeri di sepertiga malam.
Maka malam ini, ketika Mbah Karso pamit pulang, saya memberanikan diri menjawab pertanyaan beliau tadi:
"Mbah, kulo mboten ngertos menawi samenika kalabendu. Nanging menawi kalabendu punika nyata, kulo badhe nyobi mboten ndherek edan. Kulo badhe nyadean kopi kanthi jujur, lan ndongakake sing tuku."
(Mbah, saya tidak tahu apakah sekarang kalabendu. Tapi jika kalabendu itu nyata, saya akan berusaha tidak ikut edan. Saya akan berjualan kopi dengan jujur, dan mendoakan orang-orang yang membeli.)
Mbah Karso tertawa kecil, lalu menepuk pundak saya. "Nah, iku wis kalasuba jenenge, Mas. Sing cilik, ning tenan." (Nah, itu sudah namanya kalasuba, Mas. Yang kecil, tapi nyata.)

💡 Penutup: Fajar Tidak Pernah Terlambat

Bos, Jangka Ranggawarsita bukan ditulis untuk menakut-nakuti kita. Ia ditulis sebagai cermin — agar setiap generasi berani bertanya pada dirinya sendiri: "Aku sedang menjadi bagian dari masalah, atau bagian dari fajar?"
Jika malam ini Bos merasa zaman terasa berat, ingatlah satu hal: gelapnya Kalabendu adalah janji akan terbitnya Kalasuba. Dan fajar itu tidak menunggu pahlawan besar. Fajar itu menunggu orang-orang kecil yang setia berbuat benar di tempatnya masing-masing.
Termasuk kita, para penjaga warung kehidupan ini.
Mugi-mugi kita sedaya kalebet tiyang ingkang eling lan waspada, lan saget nyeksa kalasuba ing dinten punika. 🌅

  • Catatan Rendah Hati dari Admin: Admin blog ini bukan pujangga dan bukan ahli sastra Jawa. Tulisan ini adalah perenungan atas Serat Kalatidha dan tradisi jangka Jawa, dirangkum dengan bahasa sederhana. Jika para sesepuh atau ahli sastra menemukan kekeliruan, mohon sudi menegur dengan lembut. Matur nuwun!*

📖 KAMUS KECIL

  • Kalatidha — Zaman yang serba tidak pasti dan kabur
  • Kalabendu — Zaman murka; runtuhnya moral dan keadilan
  • Kalasuba — Zaman baik; kembalinya keadilan dan kemakmuran
  • Eling lan Waspada — Sadar dan mawas diri
  • Pujangga Panutup — Sebutan untuk Ranggawarsita, pujangga besar terakhir Jawa
Share: