Curahan Hati Seorang Penulis

10 Jenenge Mangsa (Pranata Mangsa): Kalender Tani Jawa Lengkap dengan Tanggal & Wewaton [UPDATE 2026]

Suatu sore, ada pelanggan saya — seorang petani tua dari desa sebelah — mampir ke warung sambil membeli kopi. Saya tanya, "Kok tumben Bapak ke sawah terus-terusan, Pak? Kan lagi musim panas?"
Beliau tersenyum sambil menyeruput kopi. "Lha wong lagi Mangsa Kapat, Mas. Banyu sumber wis wiwit asat, godhong wiwit ijo. Iki wektune nyiapake lahan kanggo nandur palawija. Petani Jawa kuwi ora ngandelan tanggal Masehi, Mas, tapi ngandelan rasaning angin lan tandhane kewan."
Ilustrasi petani Jawa tradisional di sawah dengan latar belakang pergantian musim (kemarau dan hujan), menggambarkan kearifan lokal Pranata Mangsa.
"Membaca tanda alam, mengikuti irama waktu. Itulah Pranata Mangsa. 🌾"
Saya tertegun. Di zaman di mana orang mengecek cuaca lewat aplikasi HP, petani-petani tua di Jawa masih memegang teguh Pranata Mangsa — sistem kalender tradisional yang membagi satu tahun menjadi 10 (atau 12) musim berdasarkan gejala alam.
Artikel ini akan membahas 10 Jenenge Mangsa secara lengkap: nama, rentang tanggal Masehi, dan wewaton (ciri-ciri alam) yang menjadi panduan hidup masyarakat Jawa selama berabad-abad.

📖 Apa Itu Pranata Mangsa?

Pranata Mangsa adalah sistem penanggalan (kalender) tradisional Jawa yang khusus digunakan untuk keperluan pertanian (tani).
Sistem ini pertama kali dibakukan secara resmi oleh Sunan Pakubuwana VII (Raja Surakarta) pada tahun 1856 Masehi. Beliau menyusun kalender ini dengan memadukan sistem penanggalan Syamsiah (Masehi/Matahari) dengan pengamatan alam yang sudah dilakukan petani Jawa sejak zaman Majapahit.
Tujuannya satu: supaya petani tahu pasti kapan waktu yang tepat untuk mengolah tanah, menanam, dan memanen.
Catatan: Meskipun sering disebut "10 Jenenge Mangsa" dalam pelajaran sekolah, sebenarnya sistem Pranata Mangsa yang utuh terdiri dari 12 mangsa (untuk melengkapi 12 bulan matahari). Namun, 10 mangsa pertama adalah inti dari siklus pertanian, sedangkan 2 mangsa terakhir (Desta dan Saddha) adalah masa transisi.

🌾 10 Jenenge Mangsa: Tanggal & Wewaton (Ciri Alam)

Berikut adalah rincian 10 Jenenge Mangsa beserta tanggal Masehi dan wewaton (tanda-tanda alam) yang menyertainya:

1. Mangsa Kasa (Kartika) — Musim Kemarau Tandas

  • Tanggal: 23 Juni – 2 Agustus (41 hari)
  • Wewaton (Ciri Alam):
    • Godhong kayu padha gogrog (Daun-daun pohon berguguran).
    • Ulat dan serangga mulai menetas.
    • Petani mulai membakar jerami dan membersihkan lahan.

2. Mangsa Karo (Pusa) — Tanah Mulai Retak

  • Tanggal: 3 Agustus – 25 Agustus (23 hari)
  • Wewaton:
    • Bumi padha reta (Tanah sawah dan ladang mulai retak karena kekeringan).
    • Mata air dan sumur mulai kering.
    • Angin timur bertiup kencang (musim timur).

3. Mangsa Katelu (Wulanji/Suji) — Musim Semi Jawa

  • Tanggal: 26 Agustus – 18 September (24 hari)
  • Wewaton:
    • Kembang-kembangan padha mekar (Bunga-bunga mulai bermekaran, terutama bambu dan jati).
    • Sumber air benar-benar kering.
    • Waktu yang tepat untuk mulai menanam umbi-umbian.

4. Mangsa Kapat (Kanha/Sadha) — Hujan Pertama Turun

  • Tanggal: 19 September – 13 Oktober (25 hari)
  • Wewaton:
    • Banyu sumber wiwit metu (Mata air mulai keluar lagi).
    • Hujan pertama mulai turun (gerimis).
    • Burung-burung mulai bersarang dan bertelur.

5. Mangsa Kalima (Manggasri) — Musim Hujan & Tanam Padi

  • Tanggal: 14 Oktober – 9 November (27 hari)
  • Wewaton:
    • Udan wiwit deres (Hujan mulai turun dengan deras).
    • Buah randu mulai berbunga.
    • Ini adalah waktu terbaik untuk mulai menanam padi (tandur).

6. Mangsa Kanem (Sita/Sitra) — Musim Hama & Buah

  • Tanggal: 10 November – 22 Desember (43 hari)
  • Wewaton:
    • Woh-wohan padha mateng (Banyak buah-buahan mulai matang, seperti rambutan dan durian).
    • Banyak ulat dan hama tanaman muncul.
    • Petani harus ekstra waspada menjaga sawah dari hama.

7. Mangsa Kapitu (Warga) — Puncak Musim Hujan

  • Tanggal: 23 Desember – 3 Februari (43 hari)
  • Wewaton:
    • Udan deres, angin barat (Hujan sangat deras disertai angin barat yang kencang).
    • Banyak pohon tumbang dan banjir.
    • Hewan-hewan liar mulai mencari tempat berteduh.

8. Mangsa Kawolu (Padrawana) — Padi Mulai Berbuah

  • Tanggal: 4 Februari – 28/29 Februari (25/26 hari)
  • Wewaton:
    • Pari wiwit meteng (Padi mulai berbuah/bunting).
    • Hujan masih sering turun tapi mulai berkurang.
    • Kucing dan hewan peliharaan sering kawin.

9. Mangsa Kasanga (Asuji) — Padi Menguning

  • Tanggal: 1 Maret – 26 Maret (26 hari)
  • Wewaton:
    • Udan suda, pari kuning (Hujan mulai jarang, padi mulai menguning).
    • Hewan-hewan liar mulai bunting.
    • Petani mulai mengeringkan sawah untuk persiapan panen.

10. Mangsa Kasapuluh (Dasa) — Musim Panen Raya

  • Tanggal: 27 Maret – 19 April (24 hari)
  • Wewaton:
    • Panen pari, kewan padha meteng (Panen padi raya).
    • Buah-buahan habis.
    • Hewan-hewan mulai melahirkan anak.

🌿 2 Mangsa Pelengkap (Transisi)

Untuk melengkapi siklus 365 hari, ada 2 mangsa tambahan:

11. Mangsa Desta

  • Tanggal: 20 April – 12 Mei (23 hari)
  • Wewaton: Hewan-hewan melahirkan, petani mulai menanam palawija (jagung, kedelai).

12. Mangsa Saddha

  • Tanggal: 13 Mei – 22 Juni (41 hari)
  • Wewaton: Musim kemarau mulai datang lagi, panen palawija, udara mulai panas.
(Setelah Saddha habis, siklus kembali lagi ke Mangsa Kasa pada tanggal 23 Juni).

🎯 Pantun/Parikan Pranata Mangsa (Untuk Hafalan Pelajar)

Untuk memudahkan menghafal, masyarakat Jawa sering menggunakan parikan atau tembang. Berikut yang paling populer:
"Kasa: godhong gogrog, Karo: bumi reta, Katelu: kembang mekar, Kapat: sumber asat, Kalima: udan deras, Nem: woh mateng, Pitu: angin barat, Wolu: pari meteng, Sanga: pari kuning, Dasa: panen raya."

💭 Renungan Penjaga Warung: Membaca Tanda, Bukan Melawan Alam

Pelanggan petani saya tadi sore melanjutkan ceritanya. "Mas, petani jaman saiki akeh sing ngandelan pupuk kimia lan tanggal Masehi. Akibate? Wereng nglurug, pari gagal panen. Padahal alam wis ngasih tanda. Yen kowe weruh manuk akeh nggawa suket, kuwi tandha arep udan. Yen kowe krunguk jangkrik muni rame, kuwi tandha hawa wis adem."
Saya terdiam. Di zaman modern, kita sering melawan alam. Kita memaksakan menanam di luar musim, kita menyemprot hama dengan bahan kimia yang justru merusak tanah, kita mengabaikan tanda-tanda kecil dari alam.
Pranata Mangsa mengajarkan kita satu hal: kerendahan hati.
Manusia bukan penguasa alam. Manusia adalah pembaca tanda alam. Alam punya ritmenya sendiri, punya waktunya sendiri. Tugas kita bukan memaksa alam mengikuti keinginan kita, tapi menyesuaikan diri dengan irama alam.
Kalau tanah sedang istirahat (Mangsa Kasa), biarkan dia istirahat. Kalau hujan sedang deras (Mangsa Kapitu), jangan memaksakan panen. Kalau padi sudah menguning (Mangsa Kasanga), bersiaplah bersyukur.
Ini bukan sekadar ilmu pertanian. Ini adalah falsafah hidup: tahu kapan harus bertindak, dan tahu kapan harus menunggu.

💡 Penutup: Kearifan yang Tidak Boleh Punah

Mungkin adik-adik yang membaca artikel ini untuk tugas sekolah berpikir: "Ah, ini cuma pelajaran hafalan biasa."
Tapi ketahuilah, di balik 10 jenenge mangsa ini, ada ratusan tahun observasi dari nenek moyang kita. Mereka tidak punya satelit, tidak punya aplikasi cuaca, tapi mereka bisa memprediksi cuaca hanya dengan melihat arah angin, perilaku hewan, dan mekarnya bunga.
Itu adalah kecerdasan tingkat tinggi yang lahir dari kedekatan mereka dengan alam.

Semoga artikel ini tidak hanya membantu kalian mengerjakan tugas Bahasa Jawa, tapi juga membuat kalian lebih peka terhadap alam di sekitar kalian. Keluarlah dari kamar, lihatlah pohon di halaman, rasakan anginnya. Alam sedang berbicara, kalau kita mau mendengarkan. 🌾🤍

Versi Lain :

Mangsa atau mongso adalah suatu keadaan yang ada di sekitar kita yang dari alam. Misalnya saja mongso ketigo, yaitu cuaca kemarau, dimana tidak ada hujan sama sekali.

Selain masa kemarau, juga ada masa rendheng yang artinya masa hujan. Ketigo dan rendheng adalah dua cuaca yang terbiasa di negara Indonesia ini.

Namun dalam basa jawa, ada masa-masa lain yang artinya berbeda-beda.
Apa saja itu? Berikut penjelasannya.

1. Bedhidhing.
artinya tengah-tengahing mangsa ketigo, yen wayah isuk adhem banget.

2. Ketiga.
msngsa terang, ora ono udan.

3. Labuh.
mangsa ngarepake rendheng.

4. Mareng.
mangsa ngarepake ketiga (bakda rendheng).

5. Paceklik.
mangsa larang pangan.

6. Pailan.
mangsa larang pangan.

7. Panen.
mangsa ngunduh pari.

8. Pagebluk.
mangsa akeh wong pada mati merga penyakit menular.

9. Pagering.
mangsa akeh wong padha nandang gering.

10. Rendheng.
mangsa udan.

Itulah kesepuluh mangsa miturut orang jawa.

 


 🙏 Catatan Rendah Hati dari Admin: Admin blog ini bukan ahli pertanian dan bukan budayawan. Artikel ini dirangkum dari buku-buku Bahasa Jawa dan catatan sejarah Keraton Surakarta. Jika para sesepuh atau guru Bahasa Jawa menemukan kekeliruan dalam penulisan wewaton, mohon sudi mengoreksi dengan lembut di kolom komentar. Matur nuwun!

📖 KAMUS KECIL

  • Pranata Mangsa — Sistem kalender tradisional Jawa untuk keperluan pertanian
  • Wewaton — Ciri-ciri atau tanda-tanda alam pada suatu musim
  • Mangsa — Musim (dalam konteks kalender Jawa)
  • Palawija — Tanaman pertanian selain padi (jagung, kedelai, kacang-kacangan)
  • Syamsiah — Kalender yang berdasarkan perputaran matahari (Masehi)

Share:
 
----- --------------