Curahan Hati Seorang Penulis

Kamus Basa Jawa: Perangane Awak (Anggota Tubuh) dalam Ngoko, Krama Madya, & Krama Inggil [LENGKAP + ATURAN EMAS]

Update Agustus 2026.

Suatu sore, seorang anak SD yang sering nongkrong di warung saya datang dengan wajah kusut. Dia membawa buku tulis LKS Bahasa Jawa dan bertanya: "Mas, 'tangan' krama inggile apa ya? 'Asta' ya? Kalau 'perut' namanya 'padharan' ya?"
Saya tersenyum sambil mengelap meja. "Bener, Dik. Tapi coba Mas tanya: kalau tanganmu sendiri yang sakit, kamu bilang 'Astaku lara' atau 'Tanganku lara'?"
Dia bingung. "Astaku lara, Mas. Kan sopan."
Ilustrasi seorang anak sekolah yang sedang mengerjakan PR bahasa Jawa di meja kayu warung, dengan buku catatan terbuka dan secangkir teh hangat di sampingnya, suasana belajar yang hangat.
"Bahasa Jawa bukan sekadar ganti kata. Ia adalah seni menempatkan diri. 📖🌿"
Saya geleng-geleng kepala. *"Waduh, kalau kamu bilang begitu ke gurumu, nilaimu bisa dikurangi lho. Dalam bahasa Jawa, ada Aturan Emas yang tidak boleh dilanggar: Jangan pernah meninggikan dirimu sendiri."*
Bos, belajar perangane awak (anggota tubuh) dalam bahasa Jawa memang sering bikin pusing. Bukan karena kosakatanya sulit, tapi karena tingkatan (unggah-ungguh) yang menyertainya. Artikel ini akan memberikan kamus lengkap dari Ngoko hingga Krama Inggil, plus "Aturan Emas" yang akan menyelamatkan Bos dari kesalahan fatal dalam berbahasa Jawa.

📚 Kamus Lengkap Perangane Awak (Dari Kepala hingga Kaki)

Berikut adalah daftar kosakata anggota tubuh dalam tiga tingkatan bahasa Jawa. Catatan: Krama Madya (Krama Lugu) sering kali menggunakan kata yang sama dengan Ngoko, namun diucapkan dengan nada yang lebih halus, atau menggunakan kata transisi.

🧠 Bagian Kepala (Sirah / Mustaka)

Anggota Tubuh
Ngoko (Biasa)
Krama Madya (Lugu)
Krama Inggil (Alus/Halus Sekali)
Kepala
Sirah
Sirah
Mustaka
Rambut
Rambut
Rambut
Rema
Wajah
Rai
Rai
Pasuryan
Mata
Mripat
Mripat
Paningal / Netra
Telinga
Kuping
Kuping
Pangrengu / Pamireng
Hidung
Irung
Irung
Pangganda
Mulut
Cangkem
Cangkem
Tutuk
Gigi
Untu
Untu
Waos
Lidah
Ilat
Ilat
Lathi

🫀 Bagian Badan & Anggota Gerak

Anggota Tubuh
Ngoko (Biasa)
Krama Madya (Lugu)
Krama Inggil (Alus/Halus Sekali)
Leher
Gulu
Gulu
Jangga
Tangan
Tangan
Tangan
Asta
Kuku
Kuku
Kuku
Kenaka
Badan/Tubuh
Awak
Awak
Sarira
Perut
Weteng
Weteng
Padharan
Punggung
Geger
Geger
Punggung
Kaki
Sikil
Sikil
Suku / Sampeyan*
Lutut
Dengkul
Dengkul
Jengku
*Catatan: Kata "Sampeyan" dalam Krama Inggil berarti "kaki", namun dalam percakapan sehari-hari lebih sering digunakan sebagai kata ganti "Anda" (Kamu) untuk menghormati lawan bicara.

⚠️ "Aturan Emas" Unggah-Ungguh Basa Jawa

Bos, ini adalah bagian paling penting yang sering dilupakan pelajar maupun orang dewasa. Dalam bahasa Jawa, tingkatan bahasa bukan ditentukan oleh siapa yang berbicara, melainkan oleh siapa yang dibicarakan.

🚫 KESALAHAN FATAL: Menganggap Krama Inggil = Lebih Sopan untuk Semua

Banyak orang mengira bahwa menggunakan Krama Inggil untuk semua situasi adalah yang paling sopan. Ini salah besar.
Aturan emasnya adalah:
  1. Krama Inggil HANYA untuk menghormati ORANG LAIN (orang tua, guru, orang yang lebih tua/dihormati).
  2. Gunakan Ngoko atau Krama Madya untuk DIRI SENDIRI (merendahkan diri).

💡 Contoh Penerapan yang Benar:

Kasus 1: Tangan
  • ❌ Salah: "Ngapunten Bu, Asta kula sakit." (Maaf Bu, tangan saya sakit.) -> Ini dianggap sombong karena meninggikan tangan sendiri.
  • ✅ Benar: "Ngapunten Bu, tangan kula sakit." (Maaf Bu, tangan saya sakit.)
  • ✅ Benar: "Menika Astanipun Bapak." (Ini tangan Bapak.)
Kasus 2: Perut
  • ❌ Salah: "Kula sampun dhahar, padharan kula wareg." (Saya sudah makan, perut saya kenyang.)
  • ✅ Benar: "Kula sampun dhahar, weteng kula wareg."
  • ✅ Benar: "Menapa padharanipun Eyang sampun dipun isi?" (Apakah perut Eyang sudah diisi?)
Kasus 3: Gigi
  • ❌ Salah: "Waos kula lara." (Gigi saya sakit.)
  • ✅ Benar: "Untu kula lara."
Kesimpulan: Unggah-ungguh bahasa Jawa mengajarkan kita untuk menghormati orang lain setinggi langit (Krama Inggil), dan menempatkan diri kita serendah tanah (Ngoko/Krama Lugu).

💭 Renungan Penjaga Warung: Bahasa yang Memanusiakan dan Menempatkan Diri

Sebagai penjaga warung, saya sering mengamati bagaimana orang tua zaman dulu berbicara. Mereka bisa berbicara sangat halus kepada tetangga yang lebih tua, tapi detik berikutnya berbicara santai dan akrab kepada anak-anaknya. Mereka sangat paham Empan Papan (tahu tempat dan waktu).
Belajar perangane awak dalam bahasa Jawa, bagi saya, bukan sekadar menghafal kosakata. Ia adalah seni menempatkan diri di alam semesta.
Ketika kita menyebut tangan orang tua kita sebagai Asta, kita sedang mengakui bahwa tangan itulah yang telah bekerja keras, membesarkan kita, dan mengusap kepala kita saat kecil. Tangan itu mulia. Tetapi ketika kita menyebut tangan kita sendiri sebagai Tangan (bukan Asta), kita sedang diingatkan bahwa tangan kita masih harus bekerja keras, masih harus berbakti, dan belum pantas ditinggikan.
Bahasa Jawa tidak menciptakan kasta untuk menindas. Bahasa Jawa menciptakan jarak yang sopan untuk menjaga harmoni. Ia mengajarkan kita bahwa kesopanan tertinggi bukanlah tentang merangkai kata-kata indah untuk memuji diri sendiri di media sosial, melainkan tentang kemampuan untuk menghormati orang lain dan merendahkan ego diri sendiri.
Di zaman modern yang penuh dengan orang yang berlomba-lomba meninggikan dirinya sendiri (flexing, pamer jabatan, pamer harta), filosofi unggah-ungguh ini terasa sangat mahal.
Betapa indahnya kalau kita bisa menerapkan filosofi Asta dan Tangan ini dalam hidup: Anggaplah pencapaian orang lain sebagai "Asta" yang layak dihormati, dan anggaplah pencapaian diri kita sebagai "Tangan" yang masih harus banyak bekerja dan bersyukur.

💡 Penutup: Hafalkan, Pahami, dan Praktikkan

Bos, untuk para pelajar yang sedang mengerjakan tugas, semoga tabel di atas dan "Aturan Emas" ini membantu kalian mendapat nilai sempurna. Jangan sampai tertukar antara Waos dan Untu, ya!
Dan untuk kita semua, mari lestarikan bahasa Jawa bukan hanya sebagai "bahasa daerah", tapi sebagai sekolah karakter yang mengajarkan kita tentang kerendahan hati, rasa hormat, dan kehalusan budi pekerti.
Mugi-mugi basa Jawi tansah lestari, lan ngrembaka ing jaman samangke. 🌿📖

Salam jumpa kembali dengan jangka jawa yang menyajikan berbagai macam kamus-kamus jawa dan sebagainya yang berhubungan dengan bahasa daerah di tanah Jawa.

Di sini ada lima puluh contoh tembung ngoko, tembung krama madya, krama inggil mengenai seputar anggota badan manusia. Kiranya postingan ini bisa menjadi rujukan para pelajar di Indonesia, khususnya di Jawa.

Berikut ini tabel tembung ngoko, krama, dan krama inggil. Krama madya sering juga disebut dengan tembung krama saja.
Mari disimak.

NO NGOKO KRAMA MADYA KRAMA INGGIL
1 alis alis imba
2 ati manah (peng)galih
3 awak badan salira
4 balung balung tosan
5 bangkekan bangkekan pamekan
6 bathuk bathuk palarapan
7 bokong bokong bocong
8 brengos brengos gumbala, rawis
9 cangkem cangkem tutuk
10 cengel cengel griwa
11 dhadha dhadha jaja
12 dhengkul dhengkul jengku
13 dlamakan dlamakan samparan
14 driji driji racikan
15 embun-embunan embun-embunan pasundhulan
16 endhas sirah mustaka
17 epek-epek epek-epek tapak mustaka
18 geger geger pengkeran
19 gelung gelung ukel
20 getih rah rah
21 githok githok julukan
22 gulu gulu jangga
23 idep idep ibing
24 idu idu kecoh
25 ilat ilat lidhah
26 irung irung grana
27 janggut janggut kethekan, sadhegan
28 jenggot jenggot gumbala
29 kempol kempol wengkelan.
30 kringet kringet riwe
31 kuku kuku kenaka
32 kuping kuping talingan
33 lambe lambe lathi
34 luh luh waspa
35 mata mripat paningal, soca
36 pipi pipi pangarasan
37 pundhak pundhak pamidhangan
38 pupu pupu wentis
39 rai rai pasuryan
40 rambut rambut rema, rikma
41 riyak riyak jlagra
42 sikil suku ampeyan
43 susu susu prembayun
44 suwara swanten swanten
45 tangan tangan asta
46 umbel umbel gadhing
47 untu untu waja
48 uyuh toyan turas
49 weteng weteng padharan
50 wudel wudel tuntunan

Itulah contoh-contoh tembung ngoko, krama dan krama inggil. Semoga bermanfaat.


🙏 Catatan Rendah Hati dari Admin: Admin blog ini bukan guru Bahasa Jawa bersertifikat. Kamus ini dirangkum dari buku-buku pedoman Unggah-Ungguh Basa Jawa standar kurikulum pendidikan. Jika ada Bapak/Ibu Guru atau sesepuh yang menemukan variasi kata di daerah masing-masing (karena bahasa Jawa sangat kaya akan dialek), mohon sudi menambahkan di kolom komentar. Matur nuwun!

📖 KAMUS KECIL

  • Perangane Awak — Anggota tubuh
  • Unggah-Ungguh — Tata krama atau tingkatan kesopanan dalam berbahasa Jawa
  • Krama Inggil — Bahasa Jawa tingkat tertinggi, digunakan untuk menghormati orang lain
  • Krama Madya / Lugu — Bahasa Jawa tingkat menengah/sopan standar
  • Empan Papan — Filosofi Jawa tentang tahu diri, tahu tempat, dan tahu waktu
Share:
 
----- --------------