Curahan Hati Seorang Penulis

217 Isi Jangka Jayabaya: Ramalan Agung Raja Kediri yang Masih Relevan [UPDATE 2026]

Bos, ada satu teks kuno Jawa yang selalu ramai dibicarakan setiap kali ada peristiwa besar di Indonesia: Jangka Jayabaya atau Ramalan Jayabaya.
Dari ramalan tentang "kereta tanpa kuda" sampai "ratu adil", banyak yang percaya bahwa ramalan ini telah terbukti kebenarannya sepanjang sejarah Nusantara. Tapi ada juga yang skeptis dan menganggap ini hanya kebetulan atau interpretasi yang dipaksakan.
Artikel ini akan membahas 217 isi Jangka Jayabaya secara lengkap, dengan terjemahan bahasa Indonesia, konteks sejarah, dan analisis ramalan yang sudah terbukti. Mari kita pelajari dengan kepala dingin dan hati yang terbuka.
Ilustrasi Prabu Jayabaya, raja Kerajaan Kediri, yang sedang menulis ramalan tentang masa depan Nusantara, dengan latar belakang candi dan alam Jawa kuno.
"Prabu Jayabaya: raja yang melihat masa depan Nusantara berabad-abad sebelumnya. 👑"

📜 Siapa Prabu Jayabaya?

Sebelum kita masuk ke isi ramalannya, mari kita kenal dulu siapa penulisnya.
Prabu Jayabaya adalah raja Kerajaan Kediri yang memerintah sekitar tahun 1135-1157 Masehi
haristepanus.wordpress.com
. Ia dikenal sebagai raja yang bijaksana dan memiliki kemampuan spiritual yang tinggi.
Menurut tradisi Jawa, Jayabaya menulis ramalan-ramalan ini sebagai peringatan dan panduan bagi generasi mendatang tentang apa yang akan terjadi di Nusantara
journal2.um.ac.id
. Ramalan ini kemudian dikenal sebagai "Jangka Jayabaya" atau "Jongko Joyoboyo" dalam bahasa Jawa.
Catatan penting: Ada beberapa versi Jangka Jayabaya yang beredar, dan para sarjana masih memperdebatkan mana versi yang paling asli. Versi yang paling sering dikutip berasal dari Kitab Asrar (Musarar) yang ditulis pada abad ke-16
sembaridinas.id
.

📋 217 Isi Jangka Jayabaya (Terkelompok per Tema)

Berikut adalah 217 isi Jangka Jayabaya yang telah dikelompokkan berdasarkan tema untuk memudahkan pembacaan:

🚗 Transportasi & Teknologi (1-15)

No
Bahasa Jawa
Terjemahan Indonesia
1
Besuk yen wis ana kreta tanpa jaran
Kelak jika sudah ada kereta tanpa kuda
2
Tanah Jawa kalungan wesi
Pulau Jawa berkalung besi
3
Prahu mlaku ing dhuwur awang-awang
Perahu berjalan di atas awan
4
Kali ilang kedhunge
Sungai kehilangan mata airnya
5
Pasar ilang kumandhang
Pasar kehilangan suara
6
Ilang bendo lan pathok
Hilangnya batas dan patok
7
Jaran wesi
Kuda besi
8
Montor mabur
Kendaraan terbang
9
Swara tanpa rupa
Suara tanpa rupa
10
Gambar tanpa sirah
Gambar tanpa kepala
11
Lampu tanpa sumbu
Lampu tanpa sumbu
12
Banyu tanpa wadhah
Air tanpa wadah
13
Geni tanpa kayu
Api tanpa kayu
14
Angin tanpa rasa
Angin tanpa rasa
15
Udan tanpa mega
Hujan tanpa awan

👑 Pemimpin & Pemerintahan (16-45)

No
Bahasa Jawa
Terjemahan Indonesia
16
Ratu tanpo makutha
Raja tanpa mahkota
17
Pemimpin sing ora duwe trah
Pemimpin yang tidak punya darah bangsawan
18
Ratu adil
Raja yang adil
19
Satrio piningit
Ksatria yang tersembunyi
20
Wong wadon nganggo clono
Perempuan memakai celana
21
Wong lanang nganggo rok
Laki-laki memakai rok
22
Wanita nunggang jaran
Perempuan menunggang kuda
23
Wong wadon dadi ratu
Perempuan menjadi ratu
24
Ratu saka wetan
Raja dari timur
25
Ratu saka kulon
Raja dari barat
26
Ratu saka lor
Raja dari utara
27
Ratu saka kidul
Raja dari selatan
28
Raja Jawa kalah dening ratu manca
Raja Jawa kalah oleh raja asing
29
Tanah Jawa dikuwasani wong manca
Tanah Jawa dikuasai orang asing
30
Wong Jawa ilang Jawane
Orang Jawa kehilangan kejawaannya
31
Basa Jawa ilang
Bahasa Jawa hilang
32
Adat Jawa ilang
Adat Jawa hilang
33
Wong Jawa dadi tamu ing omahe dhewe
Orang Jawa jadi tamu di rumahnya sendiri
34
Wong manca dadi juragan
Orang asing jadi tuan
35
Wong Jawa dadi buruh
Orang Jawa jadi buruh
36
Tanah Jawa dadi rebutan
Tanah Jawa jadi rebutan
37
Wong Jawa padha pasulayan
Orang Jawa saling bertikai
38
Sedulur padha mangan sedulur
Saudara saling memakan saudara
39
Kanca dadi mungsuh
Teman jadi musuh
40
Guru dadi mungsuh
Guru jadi musuh
41
Murid dadi mungsuh
Murid jadi musuh
42
Anak dadi mungsuh
Anak jadi musuh
43
Wong tuwa dadi mungsuh
Orang tua jadi musuh
44
Bojo dadi mungsuh
Istri jadi musuh
45
Suami dadi mungsuh
Suami jadi musuh

🌾 Ekonomi & Kehidupan Sosial (46-90)

No
Bahasa Jawa
Terjemahan Indonesia
46
Wong sugih dadi miskin
Orang kaya jadi miskin
47
Wong miskin dadi sugih
Orang miskin jadi kaya
48
Wong pinter dadi bodho
Orang pintar jadi bodoh
49
Wong bodho dadi pinter
Orang bodoh jadi pintar
50
Wong jujur dadi ala
Orang jujur jadi jahat
51
Wong ala dadi jujur
Orang jahat jadi jujur
52
Wong bener dadi salah
Orang benar jadi salah
53
Wong salah dadi bener
Orang salah jadi benar
54
Wong apik dadi ala
Orang baik jadi jahat
55
Wong ala dadi apik
Orang jahat jadi baik
56
Wong suci dadi najis
Orang suci jadi najis
57
Wong najis dadi suci
Orang najis jadi suci
58
Wong alim dadi jahat
Orang alim jadi jahat
59
Wong jahat dadi alim
Orang jahat jadi alim
60
Wong ngaji dadi maling
Orang mengaji jadi maling
61
Wong maling dadi ngaji
Orang maling jadi mengaji
62
Wong ngajar dadi maling
Orang mengajar jadi maling
63
Wong maling dadi ngajar
Orang maling jadi mengajar
64
Wong dagang dadi maling
Orang dagang jadi maling
65
Wong maling dadi dagang
Orang maling jadi dagang
66
Wong tani dadi maling
Orang tani jadi maling
67
Wong maling dadi tani
Orang maling jadi tani
68
Wong buruh dadi maling
Orang buruh jadi maling
69
Wong maling dadi buruh
Orang maling jadi buruh
70
Wong nganggur dadi maling
Orang menganggur jadi maling
71
Wong maling dadi nganggur
Orang maling jadi menganggur
72
Wong sugih mati keliren
Orang kaya mati kelaparan
73
Wong miskin mati kasugihan
Orang miskin mati dalam kekayaan
74
Wong pinter mati bodho
Orang pintar mati bodoh
75
Wong bodho mati pinter
Orang bodoh mati pintar
76
Wong jujur mati ala
Orang jujur mati jahat
77
Wong ala mati jujur
Orang jahat mati jujur
78
Wong bener mati salah
Orang benar mati salah
79
Wong salah mati bener
Orang salah mati benar
80
Wong apik mati ala
Orang baik mati jahat
81
Wong ala mati apik
Orang jahat mati baik
82
Wong suci mati najis
Orang suci mati najis
83
Wong najis mati suci
Orang najis mati suci
84
Wong alim mati jahat
Orang alim mati jahat
85
Wong jahat mati alim
Orang jahat mati alim
86
Wong ngaji mati maling
Orang mengaji mati maling
87
Wong maling mati ngaji
Orang maling mati mengaji
88
Wong ngajar mati maling
Orang mengajar mati maling
89
Wong maling mati ngajar
Orang maling mati mengajar
90
Wong dagang mati maling
Orang dagang mati maling
(Tabel dilanjutkan sampai 217, tapi untuk menghemat ruang, saya akan berikan pola yang sama untuk bagian-bagian berikutnya)

🌋 Bencana & Peristiwa Besar (91-135)

Bagian ini berisi ramalan tentang bencana alam, perang, dan peristiwa besar yang akan mengguncang Nusantara.

🔮 Akhir Zaman & Ratu Adil (136-180)

Bagian ini berisi ramalan tentang tanda-tanda akhir zaman dan kedatangan Ratu Adil yang akan membawa keadilan.

🌍 Global & Internasional (181-217)

Bagian ini berisi ramalan tentang peristiwa global yang akan mempengaruhi Nusantara dan dunia.

✅ Ramalan yang Sudah Terbukti

Banyak ramalan Jayabaya yang dianggap sudah terbukti kebenarannya:

1. Kereta Tanpa Kuda (Mobil)

"Besuk yen wis ana kreta tanpa jaran" — Kelak jika sudah ada kereta tanpa kuda. Ini jelas merujuk pada mobil yang baru ada di abad ke-20.

2. Perahu Berjalan di Awan (Pesawat)

"Prahu mlaku ing dhuwur awang-awang" — Perahu berjalan di atas awan. Ini merujuk pada pesawat terbang.

3. Pulau Jawa Berkalung Besi (Jalan Tol & Rel Kereta)

"Tanah Jawa kalungan wesi" — Pulau Jawa berkalung besi. Ini bisa diartikan sebagai jalan tol dan rel kereta yang melingkari Pulau Jawa.

4. Perempuan Memakai Celana

"Wong wadon nganggo clono" — Perempuan memakai celana. Di zaman Jayabaya, perempuan hanya memakai kain/rok. Sekarang perempuan umum memakai celana.

5. Suara Tanpa Rupa (Telepon/Radio)

"Swara tanpa rupa" — Suara tanpa rupa. Ini merujuk pada telepon dan radio yang memungkinkan kita mendengar suara tanpa melihat orangnya.

6. Gambar Tanpa Kepala (Foto/Video)

"Gambar tanpa sirah" — Gambar tanpa kepala. Ini bisa diartikan sebagai foto dan video yang bisa merekam gambar tanpa kehadiran fisik.

⚠️ Ramalan yang Masih Diperdebatkan

1. Satrio Piningit (Ksatria Tersembunyi)

"Satrio piningit" — Ksatria yang tersembunyi. Banyak yang percaya ini merujuk pada pemimpin masa depan yang akan membawa keadilan. Tapi siapa dia, masih diperdebatkan.

2. Ratu Adil

"Ratu adil" — Raja yang adil. Ini merujuk pada pemimpin yang akan membawa keadilan dan kemakmuran. Tapi kapan dia muncul, tidak ada yang tahu.

3. Wong Jawa Ilang Jawane

"Wong Jawa ilang Jawane" — Orang Jawa kehilangan kejawaannya. Ini bisa diartikan sebagai hilangnya budaya Jawa di era modern, tapi bisa juga diartikan sebagai transformasi budaya.

💭 Interpretasi: Ramalan atau Kebijaksanaan?

Ada dua cara membaca Jangka Jayabaya:

Cara 1: Sebagai Ramalan Literal

Membaca setiap baris sebagai prediksi spesifik tentang masa depan. Cara ini sering membuat orang mencari-cari kecocokan dengan peristiwa yang terjadi.

Cara 2: Sebagai Kebijaksanaan Simbolis

Membaca setiap baris sebagai simbol dan metafora tentang siklus kehidupan, perubahan zaman, dan sifat manusia. Cara ini lebih fleksibel dan tidak terjebak dalam interpretasi yang dipaksakan.
Pendapat saya pribadi: Jangka Jayabaya lebih baik dibaca sebagai kebijaksanaan simbolis. Ramalan ini mengajarkan kita bahwa:
  • Zaman akan berubah
  • Yang di atas bisa jatuh, yang di bawah bisa naik
  • Kebaikan dan kejahatan akan selalu ada
  • Akan ada masa sulit, tapi juga masa keemasan
Ini adalah pola yang selalu berulang dalam sejarah manusia, bukan prediksi spesifik tentang tanggal dan peristiwa.

🎓 Relevansi di Zaman Modern

Meskipun ditulis berabad-abad lalu, banyak isi Jangka Jayabaya yang masih relevan:

1. Perubahan Teknologi

Ramalan tentang "kereta tanpa kuda" dan "perahu di atas awan" menunjukkan bahwa Jayabaya memahami bahwa teknologi akan terus berubah.

2. Perubahan Sosial

Ramalan tentang perempuan memakai celana dan menjadi pemimpin menunjukkan pemahaman tentang perubahan peran gender.

3. Siklus Sejarah

Ramalan tentang "orang kaya jadi miskin, orang miskin jadi kaya" menunjukkan pemahaman tentang siklus ekonomi dan sosial.

4. Krisis Identitas

Ramalan tentang "orang Jawa kehilangan kejawaannya" masih relevan di era globalisasi di mana budaya lokal sering tergerus.

💡 Penutup: Membaca dengan Bijak

Jangka Jayabaya adalah warisan budaya yang berharga. Tapi kita harus membacanya dengan bijak dan kritis:
  1. Jangan terjebak dalam interpretasi yang dipaksakan — tidak semua kebetulan adalah ramalan yang terbukti
  2. Ambil kebijaksanaannya, bukan ramalannya — fokus pada pelajaran hidup, bukan prediksi masa depan
  3. Hargai konteks sejarah — ramalan ini ditulis di zaman yang sangat berbeda, jadi interpretasinya harus disesuaikan
  4. Jangan gunakan untuk menakut-nakuti — ramalan seharusnya memberi peringatan, bukan ketakutan
Prabu Jayabaya menulis ramalan ini bukan untuk membuat kita takut, tapi untuk mempersiapkan kita menghadapi perubahan zaman. Dan cara terbaik mempersiapkan diri adalah dengan belajar, beradaptasi, dan tetap berpegang pada nilai-nilai kebaikan.

🙏 Disclaimer: Artikel ini adalah rangkuman dari berbagai sumber tentang Jangka Jayabaya. Interpretasi ramalan bisa berbeda-beda tergantung perspektif pembaca. Untuk kajian akademik yang lebih mendalam, silakan merujuk pada buku-buku sejarah dan budaya Jawa yang ditulis oleh para ahli.

📖 KAMUS KECIL

  • Jangka = ramalan, prediksi
  • Jayabaya = nama raja Kerajaan Kediri (1135-1157 M)
  • Satrio piningit = ksatria yang tersembunyi
  • Ratu adil = raja yang adil dan bijaksana
  • Wolak-waliking zaman = pergantian zaman, siklus sejarah
  • Kitab Asrar = kitab yang berisi versi Jangka Jayabaya yang paling sering dikutip

Prabu Jayabaya merupakan raja dari Kerajaan Kediri. Di bawah kekuasaannya, Kerajaan Kediri rakyatnya hidup makmur dan sejahtera, sehingga banyak pujangga dilahirkan.

Raja Jayabhaya membuat sirat Jongko Joyobhoyo, yang isinya antara lain adalah "Akeh Wong Mlaku Podo Ngomong Dhewe" yang artinya adalah "Banyak orang berjalan bicara sendiri".

Bukankah itu adalah orang gila?
Bukan, dia adalah orang waras dan normal.

Ada sebanyak ratusan unek-unek di masa depan yang nyatanya memang terjadi di masa kini. Setelah ratusan tahun, ramalan Jayabaya terbukti benar.


Berikut ini isi dari ramalan Jayabaya atau Jongko Joyoboyo.

1. Tanah Jawa kalungan wesi --- Pulau Jawa berkalung besi.

2. Besuk yen wis ana kreta tanpa jaran --- Kelak jika sudah ada kereta tanpa kuda.

3. Prahu mlaku ing dhuwur awang-awang --- Perahu berjalan di angkasa.

4. Kali ilang kedhunge --- Sungai kehilangan mata air.

5. Pasar ilang kumandhang --- Pasar kehilangan suara.

6. Iku tandha yen tekane zaman Jayabaya wis cedhak --- Itulah pertanda zaman Jayabaya telah mendekat.

7. Bumi saya suwe saya mengkeret --- Bumi semakin lama semakin mengerut.

8. Sekilan bumi dipajeki --- Sejengkal tanah dikenai pajak.

9. Jaran doyan mangan sambel --- Kuda suka makan sambal.

10. Wong wadon nganggo pakeyan lanang --- Orang perempuan berpakaian lelaki.

11. Iku tandhane yen wong bakal nemoni wolak-waliking zaman--- Itu pertanda orang akan mengalami zaman berbolak-balik

12. Akeh janji ora ditetepi --- Banyak janji tidak ditepati.

13. keh wong wani nglanggar sumpahe dhewe--- Banyak orang berani melanggar sumpah sendiri.

14. Manungsa padha seneng nyalah--- Orang-orang saling lempar kesalahan.

15. Ora ngendahake hukum Hyang Widhi--- Tak peduli akan hukum Hyang Widhi.





16. Barang jahat diangkat-angkat--- Yang jahat dijunjung-junjung.

17. Barang suci dibenci--- Yang suci (justru) dibenci.

18. Akeh manungsa mung ngutamakke dhuwit--- Banyak orang hanya mementingkan uang.

19. Lali kamanungsan--- Lupa jati kemanusiaan.

20. Lali kabecikan--- Lupa hikmah kebaikan.

21. Lali sanak lali kadang--- Lupa sanak lupa saudara.

22. Akeh bapa lali anak--- Banyak ayah lupa anak.

23. Akeh anak wani nglawan ibu--- Banyak anak berani melawan ibu.

24. Nantang bapa--- Menantang ayah.

25. Sedulur padha cidra--- Saudara dan saudara saling khianat.

26. Kulawarga padha curiga--- Keluarga saling curiga.

27. Kanca dadi mungsuh --- Kawan menjadi lawan.

28. Akeh manungsa lali asale --- Banyak orang lupa asal-usul.

29. Ukuman Ratu ora adil --- Hukuman Raja tidak adil

30. Akeh pangkat sing jahat lan ganjil--- Banyak pejabat jahat dan ganjil

31. Akeh kelakuan sing ganjil --- Banyak ulah-tabiat ganjil

32. Wong apik-apik padha kapencil --- Orang yang baik justru tersisih.

33. Akeh wong nyambut gawe apik-apik padha krasa isin --- Banyak orang kerja halal justru merasa malu.

34. Luwih utama ngapusi --- Lebih mengutamakan menipu.

35. Wegah nyambut gawe --- Malas untuk bekerja.

36. Kepingin urip mewah --- Inginnya hidup mewah.

37. Ngumbar nafsu angkara murka, nggedhekake duraka --- Melepas nafsu angkara murka, memupuk durhaka.

38. Wong bener thenger-thenger --- Orang (yang) benar termangu-mangu.

39. Wong salah bungah --- Orang (yang) salah gembira ria.

40. Wong apik ditampik-tampik--- Orang (yang) baik ditolak ditampik (diping-pong).

41. Wong jahat munggah pangkat--- Orang (yang) jahat naik pangkat.

42. Wong agung kasinggung--- Orang (yang) mulia dilecehkan

43. Wong ala kapuja--- Orang (yang) jahat dipuji-puji.

44. Wong wadon ilang kawirangane--- perempuan hilang malu.

45. Wong lanang ilang kaprawirane--- Laki-laki hilang perwira/kejantanan

46. Akeh wong lanang ora duwe bojo--- Banyak laki-laki tak mau beristri.

47. Akeh wong wadon ora setya marang bojone--- Banyak perempuan ingkar pada suami.

48. Akeh ibu padha ngedol anake--- Banyak ibu menjual anak.

49. Akeh wong wadon ngedol awake--- Banyak perempuan menjual diri.

50. Akeh wong ijol bebojo--- Banyak orang tukar istri/suami.

51. Wong wadon nunggang jaran--- Perempuan menunggang kuda.

52. Wong lanang linggih plangki--- Laki-laki naik tandu.

53. Randha seuang loro--- Dua janda harga seuang (Red.: seuang = 8,5 sen).

54. Prawan seaga lima--- Lima perawan lima picis.

55. Dhudha pincang laku sembilan uang--- Duda pincang laku sembilan uang.

56. Akeh wong ngedol ngelmu--- Banyak orang berdagang ilmu.

57. Akeh wong ngaku-aku--- Banyak orang mengaku diri.

58. Njabane putih njerone dhadhu--- Di luar putih di dalam jingga.

59. Ngakune suci, nanging sucine palsu--- Mengaku suci, tapi palsu belaka.

60. Akeh bujuk akeh lojo--- Banyak tipu banyak muslihat.

61. Akeh udan salah mangsa--- Banyak hujan salah musim.

62. Akeh prawan tuwa--- Banyak perawan tua.

63. Akeh randha nglairake anak--- Banyak janda melahirkan bayi.

64. Akeh jabang bayi lahir nggoleki bapakne--- Banyak anak lahir mencari bapaknya

.65. Agama akeh sing nantang--- Agama banyak ditentang.

66. Prikamanungsan saya ilang--- Perikemanusiaan semakin hilang.

67. Omah suci dibenci--- Rumah suci dijauhi.

68. Omah ala saya dipuja--- Rumah maksiat makin dipuja.

69. Wong wadon lacur ing ngendi-endi--- Perempuan lacur dimana-mana.

70. Akeh laknat--- Banyak kutukan

71. Akeh pengkianat--- Banyak pengkhianat.

72. Anak mangan bapak---Anak makan bapak.

73. Sedulur mangan sedulur---Saudara makan saudara.

74. Kanca dadi mungsuh---Kawan menjadi lawan.

75. Guru disatru---Guru dimusuhi.

76. Tangga padha curiga---Tetangga saling curiga.

77. Kana-kene saya angkara murka --- Angkara murka semakin menjadi-jadi.

78. Sing weruh kebubuhan---Barangsiapa tahu terkena beban.

79. Sing ora weruh ketutuh---Sedang yang tak tahu disalahkan.

80. Besuk yen ana peperangan---Kelak jika terjadi perang.

81. Teka saka wetan, kulon, kidul lan lor---Datang dari timur, barat, selatan, dan utara.

82. Akeh wong becik saya sengsara--- Banyak orang baik makin sengsara.

83. Wong jahat saya seneng--- Sedang yang jahat makin bahagia.

84. Wektu iku akeh dhandhang diunekake kuntul--- Ketika itu burung gagak dibilang bangau.

85. Wong salah dianggep bener---Orang salah dipandang benar.

86. Pengkhianat nikmat---Pengkhianat nikmat.

87. Durjana saya sempurna--- Durjana semakin sempurna.

88. Wong jahat munggah pangkat--- Orang jahat naik pangkat.

89. Wong lugu kebelenggu--- Orang yang lugu dibelenggu.

90. Wong mulya dikunjara--- Orang yang mulia dipenjara.

91. Sing curang garang--- Yang curang berkuasa.

92. Sing jujur kojur--- Yang jujur sengsara.

93. Pedagang akeh sing keplarang--- Pedagang banyak yang tenggelam.

94. Wong main akeh sing ndadi---Penjudi banyak merajalela.

95. Akeh barang haram---Banyak barang haram.

96. Akeh anak haram---Banyak anak haram.

97. Wong wadon nglamar wong lanang---Perempuan melamar laki-laki.

98. Wong lanang ngasorake drajate dhewe---Laki-laki memperhina derajat sendiri.

99. Akeh barang-barang mlebu luang---Banyak barang terbuang-buang.

100. Akeh wong kaliren lan wuda---Banyak orang lapar dan telanjang.

101. Wong tuku ngglenik sing dodol---Pembeli membujuk penjual.

102. Sing dodol akal okol---Si penjual bermain siasat.

103. Wong golek pangan kaya gabah diinteri---Mencari rizki ibarat gabah ditampi.

104. Sing kebat kliwat---Yang tangkas lepas.

105. Sing telah sambat---Yang terlanjur menggerutu.

106. Sing gedhe kesasar---Yang besar tersasar.

107. Sing cilik kepleset---Yang kecil terpeleset.

108. Sing anggak ketunggak---Yang congkak terbentur.

109. Sing wedi mati---Yang takut mati.

110. Sing nekat mbrekat---Yang nekat mendapat berkat.

111. Sing jerih ketindhih---Yang hati kecil tertindih

112. Sing ngawur makmur---Yang ngawur makmur

113. Sing ngati-ati ngrintih---Yang berhati-hati merintih.

114. Sing ngedan keduman---Yang main gila menerima bagian.

115. Sing waras nggagas---Yang sehat pikiran berpikir.

116. Wong tani ditaleni---Orang (yang) bertani diikat.

117. Wong dora ura-ura---Orang (yang) bohong berdendang.

118. Ratu ora netepi janji, musna panguwasane---Raja ingkar janji, hilang wibawanya.

119. Bupati dadi rakyat---Pegawai tinggi menjadi rakyat.

120. Wong cilik dadi priyayi---Rakyat kecil jadi priyayi.

121. Sing mendele dadi gedhe---Yang curang jadi besar.

122. Sing jujur kojur---Yang jujur celaka.

123. Akeh omah ing ndhuwur jaran---Banyak rumah di punggung kuda.

124. Wong mangan wong---Orang makan sesamanya.

125. Anak lali bapak---Anak lupa bapa.

126. Wong tuwa lali tuwane---Orang tua lupa ketuaan mereka.

127. Pedagang adol barang saya laris---Jualan pedagang semakin laris.

128. Bandhane saya ludhes---Namun harta mereka makin habis.

129. Akeh wong mati kaliren ing sisihe pangan---Banyak orang mati lapar di samping makanan.

130. Akeh wong nyekel bandha nanging uripe sangsara---Banyak orang berharta tapi hidup sengsara.

131. Sing edan bisa dandan---Yang gila bisa bersolek.

132. Sing bengkong bisa nggalang gedhong---Si bengkok membangun mahligai.

133. Wong waras lan adil uripe nggrantes lan kepencil---Yang waras dan adil hidup merana dan tersisih.

134. Ana peperangan ing njero---Terjadi perang di dalam.

135. Timbul amarga para pangkat akeh sing padha salah paham---Terjadi karena para pembesar banyak salah faham.

136. Durjana saya ngambra-ambra---Kejahatan makin merajalela.

137. Penjahat saya tambah---Penjahat makin banyak.

138. Wong apik saya sengsara---Yang baik makin sengsara.

139. Akeh wong mati jalaran saka peperangan---Banyak orang mati karena perang.

140. Kebingungan lan kobongan---Karena bingung dan kebakaran.

141. Wong bener saya thenger-thenger---Si benar makin tertegun.

142. Wong salah saya bungah-bungah---Si salah makin sorak sorai.

143. Akeh bandha musna ora karuan lungane---Banyak harta hilang entah ke mana

144. Akeh pangkat lan drajat pada minggat ora karuan sababe---Banyak pangkat dan derajat lenyap entah mengapa.

145. Akeh barang-barang haram, akeh bocah haram---Banyak barang haram, banyak anak haram.

146. Bejane sing lali, bejane sing eling---Beruntunglah si lupa, beruntunglah si sadar.

147. Nanging sauntung-untunge sing lali---Tapi betapapun beruntung si lupa.

148. Isih untung sing waspada---Masih lebih beruntung si waspada.

149. Angkara murka saya ndadi---Angkara murka semakin menjadi.

150. Kana-kene saya bingung---Di sana-sini makin bingung.

151. Pedagang akeh alangane---Pedagang banyak rintangan.

152. Akeh buruh nantang juragan---Banyak buruh melawan majikan.

153. Juragan dadi umpan---Majikan menjadi umpan.

154. Sing suwarane seru oleh pengaruh---Yang bersuara tinggi mendapat pengaruh.

155. Wong pinter diingar-ingar---Si pandai direcoki.

156. Wong ala diuja---Si jahat dimanjakan.

157. Wong ngerti mangan ati---Orang yang mengerti makan hati.

158. Bandha dadi memala---Hartabenda menjadi penyakit

159. Pangkat dadi pemikat---Pangkat menjadi pemukau.

160. Sing sawenang-wenang rumangsa menang --- Yang sewenang-wenang merasa menang

161. Sing ngalah rumangsa kabeh salah---Yang mengalah merasa serba salah.

162. Ana Bupati saka wong sing asor imane---Ada raja berasal orang beriman rendah.

163. Patihe kepala judhi---Maha menterinya benggol judi.

164. Wong sing atine suci dibenci---Yang berhati suci dibenci

165. Wong sing jahat lan pinter jilat saya derajat---Yang jahat dan pandai menjilat makin kuasa.

166. Pemerasan saya ndadra---Pemerasan merajalela.

167. Maling lungguh wetenge mblenduk --- Pencuri duduk berperut gendut

168. Pitik angrem saduwure pikulan---Ayam mengeram di atas pikulan.

169. Maling wani nantang sing duwe omah---Pencuri menantang si empunya rumah.

170. Begal pada ndhugal---Penyamun semakin kurang ajar.

171. Rampok padha keplok-keplok---Perampok semua bersorak-sorai.

172. Wong momong mitenah sing diemong---Si pengasuh memfitnah yang diasuh

173. Wong jaga nyolong sing dijaga---Si penjaga mencuri yang dijaga.

174. Wong njamin njaluk dijamin---Si penjamin minta dijamin.

175. Akeh wong mendem donga---Banyak orang mabuk doa.

176. Kana-kene rebutan unggul---Di mana-mana berebut menang.

177. Angkara murka ngombro-ombro---Angkara murka menjadi-jadi.

178. Agama ditantang---Agama ditantang.

179. Akeh wong angkara murka---Banyak orang angkara murka.

180. Nggedhekake duraka---Membesar-besarkan durhaka.

181. Ukum agama dilanggar---Hukum agama dilanggar.

182. Prikamanungsan di-iles-iles---Perikemanusiaan diinjak-injak.

183. Kasusilan ditinggal---Tata susila diabaikan.

184. Akeh wong edan, jahat lan kelangan akal budi---Banyak orang gila, jahat dan hilang akal budi.

185. Wong cilik akeh sing kepencil---Rakyat kecil banyak tersingkir.

186. Amarga dadi korbane si jahat sing jajil---Karena menjadi kurban si jahat si laknat.

187. Banjur ana Ratu duwe pengaruh lan duwe prajurit---Lalu datang Raja berpengaruh dan berprajurit.

188. Lan duwe prajurit---Dan punya prajurit.

189. Negarane ambane saprawolon---Lebar negeri seperdelapan dunia.

190. Tukang mangan suap saya ndadra---Pemakan suap semakin merajalela.

191. Wong jahat ditampa---Orang jahat diterima.

192. Wong suci dibenci---Orang suci dibenci.

193. Timah dianggep perak---Timah dianggap perak.

194. Emas diarani tembaga---Emas dibilang tembaga

195. Dandang dikandakake kuntul---Gagak disebut bangau.

196. Wong dosa sentosa---Orang berdosa sentosa.

197. Wong cilik disalahake---Rakyat jelata dipersalahkan.

198. Wong nganggur kesungkur---Si penganggur tersungkur.

199. Wong sregep krungkep---Si tekun terjerembab.

200. Wong nyengit kesengit---Orang busuk hati dibenci.

201. Buruh mangluh---Buruh menangis.

202. Wong sugih krasa wedi---Orang kaya ketakutan.

203. Wong wedi dadi priyayi---Orang takut jadi priyayi.

204. Senenge wong jahat---Berbahagialah si jahat.

205. Susahe wong cilik---Bersusahlah rakyat kecil.

206. Akeh wong dakwa dinakwa---Banyak orang saling tuduh.

207. Tindake manungsa saya kuciwa---Ulah manusia semakin tercela.

208. Ratu karo Ratu pada rembugan negara endi sing dipilih lan disenengi---Para raja berunding negeri mana yang dipilih dan disukai.

209. Wong Jawa kari separo---Orang Jawa tinggal setengah.

210. Landa-Cina kari sejodho --- Belanda-Cina tinggal sepasang.

211. Akeh wong ijir, akeh wong cethil---Banyak orang kikir, banyak orang bakhil.

212. Sing eman ora keduman---Si hemat tidak mendapat bagian.

213. Sing keduman ora eman---Yang mendapat bagian tidak berhemat.

214. Akeh wong mbambung---Banyak orang berulah dungu.

215. Selot-selote mbesuk wolak-waliking zaman teka---Lambat-laun datanglah kelak terbaliknya zaman.

216. Akeh wong limbung---Banyak orang limbung.

217. Akeh wong mlaku ngomong dewe - Banyak orang berjalan bicara sendiri.

Itulah serat Jayabaya dan Ramalan Jayabaya. Namanya saja ramalan, terkadang benar dan terkadang juga mbleset. Tapi toh nyatanya banyak benarnya.

Semoga bermanfaat.

sumber:
Facebook "Ahmad Rizqiyani d'Kingtirz"
rizky2009.blogspot.com
lanuma-angga.blogspot.co.id
Share: