Surabaya, 6 Agustus 2026
Suatu sore, di warung kopi pinggir kampung, seorang bapak tua berkata sesuatu yang sampai sekarang tidak bisa kulupakan.
"Nek zaman wis edan, Satriya Piningit bakal teka."
Dia mengucapkannya dengan tenang, seperti orang memberitahu kabar hujan besok pagi. Orang-orang di sekitarnya mengangguk pelan. Dan aku, yang waktu itu masih merasa terlalu muda untuk ramalan, hanya mengaduk kopi sambil menyimpan satu pertanyaan: siapa sebenarnya dia? Dan di mana dia bersembunyi?
Malamnya, aku mulai mencari jawaban. Dan seperti biasanya, tanah Jawa tidak memberiku satu jawaban — ia memberiku cerita.
Nama Prabu Jayabaya, raja Kediri yang namanya menjadi wadah segala macam ramalan, sering disebut sebagai awal tradisi ini: gambaran tentang zaman panjang penuh cobaan, sebelum akhirnya muncul pemimpin yang adil — Ratu Adil — atau dalam versi yang paling puitis: Satriya Piningit, sang ksatria yang tersembunyi.
Berabad-abad kemudian, Ranggawarsita, pujangga besar Surakarta, menyuarakan gelisah yang sama dalam tulisannya tentang zaman edan masa ketika orang yang berakal sehat justru ikut terseret kegilaan. Dan di ujung kegilaan itu, harapan yang sama tetap menyala: sang adil akan datang.
Tersembunyi di mana? Kata orang-orang tua: di desa terpencil. Kata yang lain: di antara rakyat biasa. Ada juga yang bilang, dia tidak akan datang berkuda dia lahir di zaman paling sulit, dengan wajah paling biasa.
Semakin banyak membaca, semakin aku sadar satu hal: tradisi ini sebenarnya bukan tentang satu orang. Ini tentang kerinduan.
Orang kecil yang kecewa pada pemimpinnya tidak berhenti berharap — mereka hanya memindahkan harapannya ke tempat yang tidak bisa mengecewakan mereka: ke masa depan, ke ramalan, ke sosok yang "masih tersembunyi".
Karena itu, kalimat "ramalan adalah doa yang menyamar" terasa sangat benar. Di balik setiap ramalan tentang ratu yang adil, ada bisikan orang kecil: semoga suatu hari aku diperlakukan dengan adil.
Dan ini bagian yang membuatku lama terdiam.
Sebagian sesepuh menafsirkan Satriya Piningit bukan sebagai satu sosok, tapi sebagai nilai yang tersembunyi tersembunyi di dalam diri setiap orang. Sang ksatria bukan datang; dia ditumbuhkan. Setiap kali seseorang memilih jujur padahal bisa curang, setiap kali seseorang memilih adil padahal bisa menang saat itulah sang "ksatria tersembunyi" muncul sedikit.
Kalau tafsir ini benar, maka menunggu sambil menatap langit saja tidak cukup.
Antrean yang kamu jaga biar tetap rapi. Kembalian yang kamu kembalikan padahal tidak ada yang melihat. Keadilan kecil yang kamu tegakkan di rumahmu sendiri hal-hal remeh itulah mungkin "tempat persembunyian" tempat sang ksatria diam-diam dibesarkan.
Bapak tua di warung kopi itu mungkin benar. Satriya Piningit memang akan muncul.
Tapi mungkin, dia tidak datang kepada kita dia tumbuh dari kita.
P.S. Kalau menurutmu, pemimpin yang adil itu akan datang dari langit, atau tumbuh dari kebiasaan kecil kita sehari-hari? Ngobrol pelan-pelan di kolom komentar ya. 🌅
