Curahan Hati Seorang Penulis

Nrimo Ing Pandum: Antidot Paling Ampuh untuk Racun FOMO

Pernahkah kamu membuka media sosial di pagi hari, melihat seseorang yang baru saja beli mobil, liburan ke luar negeri, atau dapat promosi kerja — dan tiba-tiba dadamu terasa sesak? Bukan karena kamu iri. Tapi karena sebuah pertanyaan kecil berbisik di kepalamu: "Kenapa aku masih di sini? Kenapa hidupku belum sampai di sana?"
Itulah yang orang modern sebut FOMO (Fear of Missing Out): takut tertinggal, takut tidak cukup, takut tidak seperti orang lain.
Dan lucunya, obat untuk penyakit ini sudah diracik oleh leluhur Jawa berabad-abad lalu. Mereka menyebutnya: nrimo ing pandum.
Ilustrasi cat air: seseorang duduk tenang di bawah pohon besar dengan segelas teh hangat, di kejauhan terlihat keramaian kota yang samar, suasana damai dan penuh penerimaan.
"Bukan menyerah. Tapi berdamai dengan 'pandum' yang telah menjadi bagianmu. 🌿"

Apa Sebenarnya "Nrimo Ing Pandum"?

Secara harfiah, nrimo berarti "menerima", dan pandum berarti "bagian" atau "jatah". Jadi, nrimo ing pandum adalah: menerima bagian yang telah ditetapkan untukmu.
Tapi tunggu dulu. Jangan salah paham.
Banyak orang mengira nrimo berarti "pasrah, menyerah, dan tidak mau berusaha". Padahal, itu adalah kesalahpahaman terbesar. Leluhur Jawa tidak pernah mengajarkan kemalasan. Mereka mengajarkan keberanian untuk menerima hasil, setelah kita melakukan yang terbaik.
Nrimo bukan berarti tidak berusaha. Nrimo berarti: setelah kamu bekerja keras, kamu tidak menghancurkan dirimu sendiri dengan membandingkan hasilmu dengan hasil orang lain.

FOMO: Racun yang Kita Minum Sendiri

Di era digital, FOMO bukan lagi sekadar perasaan. Ia adalah racun yang kita minum setiap hari tanpa sadar.
  • Kita membandingkan bab 1 hidup kita dengan bab 20 hidup orang lain.
  • Kita mengukur kesuksesan dari feed Instagram, bukan dari kedamaian hati.
  • Kita merasa harus selalu "produktif", padahal tubuh dan jiwa kita butuh istirahat.
(Soal tekanan untuk selalu produktif, aku pernah menulisnya di Hari Ini Aku Tidak Produktif, dan Tidak Apa-Apa. Ternyata, tidak melakukan apa-apa pun adalah bentuk keberanian.)
FOMO membuat kita lupa pada satu hal sederhana: setiap orang punya "pandum"-nya sendiri. Bagianmu bukan bagian mereka. Jalanmu bukan jalan mereka. Dan itu tidak apa-apa.

Nrimo Bukan Pasrah. Nrimo Adalah Sadar.

Mari kita luruskan lagi.
Nrimo ing pandum bukan berarti kamu duduk diam dan menunggu rezeki jatuh dari langit. Itu namanya malas, bukan nrimo.
Nrimo adalah:
  • Kamu berusaha sekuat tenaga.
  • Kamu berdoa dengan sungguh-sungguh.
  • Lalu kamu menerima hasilnya — apa pun itu — tanpa menghancurkan dirimu sendiri.
Ini mirip dengan konsep qana'ah dalam tradisi Islam: merasa cukup dengan apa yang ada, bukan karena kamu tidak mau lebih, tapi karena kamu sadar bahwa "lebih" tidak selalu berarti "lebih bahagia".
(Soal keberkahan dan keikhlasan dalam menerima, aku menulisnya di blog islami: Hikmah Hari Kedua Kemerdekaan. Ternyata, kemerdekaan sejati adalah kemerdekaan dari rasa tidak cukup.)

Cara Praktis "Nrimo" di Era Digital

Tidak perlu menjadi pertapa di gunung untuk mempraktikkan nrimo. Cukup mulai dari langkah kecil:
  • Batasi waktu scroll. Kalau melihat feed orang lain membuatmu cemas, itu tandanya kamu butuh jeda. Matikan hp. Tarik napas. Sadari bahwa kamu tidak sedang ketinggalan apa-apa.
  • Rayakan "pandum" kecilmu. Kamu mungkin tidak punya mobil mewah, tapi kamu punya keluarga yang sehat. Kamu mungkin tidak liburan ke luar negeri, tapi kamu punya teman yang bisa diajak ngobrol. Itu juga "pandum".
  • Berhenti membandingkan. Bandingkan dirimu hari ini dengan dirimu kemarin. Apakah kamu lebih sabar? Lebih baik? Lebih tenang? Itu sudah cukup.
  • Istirahat tanpa rasa bersalah. Kalau tubuhmu butuh berhenti, berhentilah. (Soal seni istirahat, aku menulisnya di Seni "Ngaso" yang Hilang.)

Merdeka dari Rasa "Kurang"

Kemerdekaan sejati, menurut leluhur Jawa, bukan hanya bebas dari penjajah. Kemerdekaan sejati adalah bebas dari rasa tidak cukup.
Ketika kamu bisa berkata: "Aku sudah berusaha. Aku sudah berdoa. Dan aku menerima hasilnya dengan lapang dada," — di situlah kamu benar-benar merdeka.
Bukan merdeka dari kemiskinan. Bukan merdeka dari kegagalan. Tapi merdeka dari rasa takut tidak seperti orang lain.
Itulah nrimo ing pandum. Bukan menyerah. Tapi berdamai. 🌿

Kapan terakhir kali kamu merasa "cukup" dengan hidupmu? Bukan karena kamu tidak ingin lebih, tapi karena kamu sadar bahwa apa yang kamu punya saat ini sudah lebih dari cukup? Ceritakan di kolom komentar — mari kita saling mengingatkan bahwa "pandum" kita masing-masing itu indah. 🤍

📖 KAMUS KECIL HARI INI

  • Nrimo ing Pandum — Menerima bagian/jatah yang telah ditetapkan; bukan menyerah, tapi berdamai dengan hasil setelah berusaha.
  • FOMOFear of Missing Out; ketakutan tertinggal atau tidak seperti orang lain.
  • Qana'ah — (Arab) Merasa cukup; konsep serupa dalam tradisi Islam.
  • Pandum — Bagian, jatah, atau nasib yang telah ditentukan.
  • Nrimo — Menerima; bukan pasif, tapi aktif dalam menerima hasil.

⚠️ Tulisan ini adalah refleksi budaya dan falsafah Jawa, bukan panduan spiritual atau medis. Untuk masalah kesehatan mental yang serius (kecemasan kronis, depresi), selalu konsultasikan dengan psikolog atau tenaga kesehatan profesional.
Share:

Serat Kalatidha: "Zaman Edan" Ranggawarsito, dan Kita yang Tenggelam dalam Notifikasi

Pernahkah kamu membuka hp hanya untuk mengecek jam, tapi tiba-tiba sadar sudah setengah jam berlalu dengan jempol yang terus scroll tanpa arah? Kepala terasa berat, mata lelah, dan ada rasa hampa yang aneh di dada.
Ilustrasi cat air surealis yang tenang: sebuah smartphone modern memancarkan cahaya biru yang hiruk-pikuk, di sebelahnya terdapat kitab/lontar Jawa kuno yang memancarkan cahaya kuning hangat yang menenangkan, di atas meja kayu dengan secangkir teh.
"Seberuntung-beruntungnya yang lupa, lebih beruntung yang eling lan waspada. 🌿"
Suatu malam, saat merasa kewalahan oleh derasnya informasi dan tuntutan dunia maya, aku tidak sengaja membaca kembali bait-bait dari Serat Kalatidha. Ini adalah karya sastra Jawa yang ditulis oleh Pujangga Terakhir Keraton Surakarta, R.Ng. Ranggawarsita, pada tahun 1860-an.
Dan aku merinding. Karena ternyata, apa yang kita alami hari ini di era digital, sudah diramalkan lebih dari satu setengah abad yang lalu. Beliau menyebutnya: Zaman Edan.

"Amenangi Zaman Edan, Ewuhaya Ing Pambudi"

Mari kita bedah bait yang paling melegenda ini:
Amenangi zaman edan, ewuhaya ing pambudi. Milu edan nora tahan, yen tan milu anglakoni, boya kaduman melik, kaliren wekasanipun.
Terjemahan kasarnya: (Sungguh sulit hidup di zaman edan. Kalau ikut gila, batin tidak kuat. Kalau tidak ikut gila, tidak kebagian apa-apa, akhirnya kelaparan).
Bukankah ini potret persis dari FOMO (Fear of Missing Out) dan budaya hustle kita hari ini?
Kalau kita ikut "edan"-nya arus media sosial — ikut pamer, ikut berkomentar pedas, ikut berlomba produktivitas palsu — mental kita yang hancur. (Aku pernah menulis rasa lelahnya di artikel Hari Ini Aku Tidak Produktif, dan Tidak Apa-Apa).
Tapi kalau kita logout, diam saja, kita takut dibilang ketinggalan zaman, takut ketinggalan tren, takut "kelaparan" secara sosial. Dulu, di era 17-an Zaman HP Jadul, hp hanya berbunyi saat ada kabar penting. Sekarang, saku kita adalah pasar malam yang tidak pernah tutup. Kita terjebak di tengah-tengahnya.

Jalan Keluar: Eling lan Waspada

Lalu, apakah Ranggawarsito membiarkan kita putus asa? Tidak. Beliau menutup tembang itu dengan sebuah "kunci" yang sangat jenius:
Ndilalah karsa Allah, begja-begjane kang lali, luwih begja kang eling lawan waspada.
(Atas kehendak Allah, seberuntung-beruntungnya orang yang lupa/lalai, masih jauh lebih beruntung orang yang Eling dan Waspada).
Dalam kacamata psikologi modern, eling adalah mindfulness (kesadaran penuh pada saat ini), dan waspada adalah vigilance (kewaspadaan pada lingkungan).
Namun, jika kita tarik ke dalam kacamata spiritual yang lebih dalam, Eling adalah Dzikir (ingat kepada Sang Pencipta), dan Waspada adalah Muraqabah (merasa selalu diawasi oleh Allah). Ini adalah jangkar yang membuat batin kita tidak ikut terseret arus "kegilaan" algoritma dan dunia.

Merawat Kewarasan di Tengah Badai

Bagaimana cara mempraktikkan Eling lan Waspada di abad 21?
  1. Waspada pada Layar: Sadari kapan layar mulai meracuni tidurmu. Cahaya biru dan hutang tidur adalah tanda fisik bahwa kita sedang "lali" (lupa) pada kebutuhan tubuh kita sendiri.
  2. Eling pada yang Nyata: Letakkan hp. Tatap mata anakmu, dengarkan suara pasanganmu, atau rasakan angin sore. Algoritma tidak bisa menggantikan hangatnya kehadiran fisik.
  3. Waspada pada Hati: Sebelum mengetik komentar yang pedas, tanyakan pada hati: apakah ini membawa kebaikan, atau hanya menuruti ego?
Zaman edan mungkin tidak akan pernah berakhir. Notifikasi akan terus berdering. Tapi Ranggawarsito sudah berpesan: kita tidak harus ikut gila. Kita cukup duduk tenang, menjaga kewarasan, dan mengingat Dia yang menggenggam zaman.
Giliranmu: di tengah "zaman edan" hari ini, apa satu hal sederhana yang biasa kamu lakukan supaya tetap eling dan waras? Mari berbagi di kolom komentar. 🌿
Share:

Translate

Postingan Populer

Arsip Blog

Label

Kamus Jawa (417) Kesehatan (262) Sejarah (6)